1.820.3345.33 Contact@TravelTourWP.com

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

8 Kuliner Ekstrem Bali Selain Lawar Plek, Dari Darah hingga Keong Sawah

Dua turis asing asal China dan Amerika mencicipi kuliner ekstrem Bali seperti sate ulat sagu dan timbungan dengan latar upacara adat Hindu Bali di pura.

Jika kamu mencari kuliner ekstrem Bali selain lawar plek, kamu akan menemukan banyak daftar yang mirip satu sama lain. Namun tidak semua artikel membahas lokasi asli, konteks budaya, serta pengalaman mencicipinya langsung. Kuliner ekstrem Bali bukan sekadar makanan aneh atau viral, tetapi bagian dari tradisi, upacara adat, dan kebiasaan masyarakat setempat.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi salah satu penyumbang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali setiap tahunnya. Selain itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) juga mencatat bahwa wisata kuliner menjadi salah satu motivasi utama wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke Bali. Artinya, eksplorasi makanan tradisional, termasuk kuliner ekstrem Bali, bukan sekadar tren, tetapi bagian dari daya tarik ekonomi dan budaya yang nyata.

Di antara banyak hidangan yang sering disebut, lawar plek memang paling terkenal. Namun Bali tidak berhenti di sana. Ada timbungan yang diasap berjam-jam dalam bambu, sate pasar yang berwarna gelap dengan rasa pekat, hingga olahan keong sawah yang dimakan langsung dari cangkangnya. Semua hadir bukan untuk sensasi, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Berikut adalah 8 kuliner ekstrem Bali selain lawar plek yang benar-benar bisa kamu temukan di desa, pasar pagi, hingga kawasan adat.

1. Timbungan – Asap Bambu yang Membungkus Daging Berjam-jam

Lokasi: Desa Bedulu, Gianyar
Jam Operasional: ± 10.00–18.00 WITA (sering habis lebih cepat)

Pagi itu lensa jalan tiba di Desa Bedulu, Gianyar, ketika suasana sawah masih tenang dan aktivitas warga baru berjalan perlahan. Di sebuah warung sederhana tanpa papan nama mencolok, aroma asap bambu sudah lebih dulu menyambut. Timbungan yang dipesan disajikan dalam potongan bambu yang dibelah, memperlihatkan daging babi berwarna gelap dengan permukaan berminyak.

Saat dicicipi, teksturnya langsung terasa sangat empuk, seolah daging itu menyerah sepenuhnya pada proses panjang di dalam bambu. Rasa rempahnya pekat, berpadu dengan aroma asap yang menempel lama di mulut. Sensasi ekstremnya bukan pada bahan, melainkan pada intensitas rasa dan metode memasaknya yang nyaris tak berubah sejak dulu.

2. Be Tutug – Pedas Bangli yang Tidak Memberi Ampun

Sumber: Exploring the True Delight with the Recipe for Sundanese Nasi Tutug Oncom – DK’Resipi

Lokasi: Desa Tamanbali, Bangli
Jam Operasional: ± 09.00–16.00 WITA

Di Bangli, lensa jalan berhenti di sebuah warung kecil dengan dapur terbuka. Dari kejauhan, suara ulekan dan aroma cabai rawit sudah terasa menyengat. Be tutug disajikan tanpa banyak garnish, tampilannya sederhana, tapi begitu suapan pertama masuk, rasa pedasnya langsung menghantam.

Pedasnya bukan sekadar panas di lidah, melainkan pedas berlapis yang terus muncul di setiap kunyahan. Campuran oncom fermentasi dan daging menciptakan rasa yang tajam, sedikit asam, dan sangat berani. Be tutug terasa ekstrem karena ia tidak berusaha menyesuaikan diri dengan lidah luar Bali. Ini makanan yang apa adanya, keras, dan jujur.

3. Sate Languan – Sate Gelap dari Pasar Pagi

Lokasi: Pasar Kreneng, Denpasar Timur
Jam Operasional: ± 05.00–10.00 WITA

Saat matahari belum tinggi, lensa jalan sudah berada di Pasar Kreneng. Di tengah hiruk-pikuk pedagang dan pembeli, kepulan asap sate menarik perhatian. Sate languan terlihat lebih gelap dari sate pada umumnya, dengan aroma asap yang kuat.

Begitu digigit, rasa gurihnya langsung terasa padat, disusul aftertaste sedikit pahit yang khas. Tidak ada rasa amis seperti yang sering dibayangkan orang. Justru rasanya matang dan dalam. Sate ini terasa ekstrem karena bahan dan prosesnya, namun bagi warga pasar, sate languan adalah sarapan biasa sebelum memulai hari.

4. Be Kakul – Keong Sawah dengan Rasa Alam

Lokasi: Tegallalang, Ubud
Jam Operasional: ± 11.00–19.00 WITA

Di pinggiran Ubud, lensa jalan menemukan warung kecil dengan pemandangan sawah terbuka. Be kakul disajikan dalam mangkuk besar, penuh keong sawah yang dilumuri bumbu merah pekat. Cara makannya harus disedot langsung dari cangkangnya.

Saat cairan dan daging keong masuk ke mulut, rasa gurih dan manis alami langsung terasa. Ada aroma tanah basah dan rempah yang berpadu, membuat sensasi makan ini terasa sangat dekat dengan alam. Be kakul terasa ekstrem karena tekstur dan cara makannya, sekaligus karena rasa sawah itu sendiri ikut hadir di lidah.

5. Tum Ayam – Rempah Pekat dari Dapur Rumahan

Lokasi: Desa Gelgel, Klungkung
Jam Operasional: ± 10.00–15.00 WITA

Tum ayam yang lensa jalan cicipi berasal dari dapur rumahan di Desa Gelgel. Tidak ada menu tertulis, hanya masakan yang dibuat terbatas setiap hari. Tum ayam disajikan masih terbungkus daun pisang, dan saat dibuka, aroma rempah langsung keluar kuat.

Teksturnya sangat lembut, hampir seperti daging yang dilumat, namun rasanya tajam dan penuh karakter. Kencur, lengkuas, dan bumbu Bali lainnya mendominasi setiap suapan. Tum ayam terasa ekstrem karena kepadatan rasa dan rempahnya yang nyaris tanpa jeda di lidah.

6. Sate Bulus – Kuliner Langka yang Mengundang Kontroversi

Lokasi: Desa Pejaten, Kediri, Tabanan
Jam Operasional: ± 12.00–17.00 WITA (tergantung stok)

Di wilayah Tabanan, lensa jalan menemukan sate bulus di sebuah warung sederhana yang hanya diketahui warga sekitar. Daging bulus disajikan seperti sate pada umumnya, tanpa bumbu berlebihan.

Saat dimakan, teksturnya sedikit kenyal, mirip ayam kampung, dengan rasa gurih yang bersih. Namun yang membuatnya ekstrem bukan hanya rasa, melainkan kesadaran bahwa kuliner ini jarang ditemui dan tidak selalu tersedia. Sensasi makannya terasa lebih reflektif dibanding kuliner ekstrem lain.

7. Lawar Nangka Darah – Hidangan Sakral yang Tidak Dijual Bebas

Lokasi: Desa adat di Kabupaten Gianyar
Jam Operasional: Saat upacara adat (pagi–siang)

Berbeda dari lawar pada umumnya, versi nangka darah ini lensa jalan temui dalam konteks upacara adat. Lawar disajikan tanpa dekorasi, langsung dari dapur upacara ke piring.

Rasanya kompleks. Manis nangka muda berpadu dengan gurih daging dan aroma khas darah yang telah dimasak matang. Teksturnya basah, berserat, dan mengenyangkan. Lawar ini terasa ekstrem bukan hanya karena bahan, tetapi karena maknanya yang sakral dan tidak bisa ditemui setiap hari.

8. Sate Ulat Sagu – Ekstrem di Pikiran, Ringan di Lidah

Sumber: Resep Sate Ulat Sagu: Eksotisme Kuliner Khas Papua Menggoda

Lokasi: Pegunungan Buleleng Utara
Jam Operasional: ± 16.00–18.00 WITA (tidak setiap hari)

Di wilayah pegunungan Buleleng, lensa jalan pernah ditawari sate ulat sagu oleh warga setempat. Ulat sagu dibakar cepat tanpa banyak bumbu, lalu disajikan hangat.

Saat dicicipi, rasanya justru ringan. Bagian luarnya renyah, bagian dalamnya lembut dengan sedikit rasa manis alami. Sensasi ekstremnya lebih banyak datang dari tampilan dan bahan dasarnya, bukan dari rasa. Pengalaman ini membuat lensa jalan menyadari bahwa kuliner ekstrem sering kali lebih menantang di kepala daripada di lidah.

Menjelajahi kuliner ekstrem Bali berarti melangkah lebih jauh dari sekadar mencicipi rasa yang tidak biasa. Dari pengalaman lensa jalan, makanan-makanan ini membuka pemahaman bahwa ekstrem sering kali bukan tentang keberanian, melainkan tentang keterhubungan manusia dengan alam dan tradisi. Setiap hidangan membawa cerita tentang desa, musim, ritual, dan cara orang Bali memaknai hidup. Jika kamu mencarinya dengan sikap terbuka dan rasa hormat, kuliner ekstrem Bali tidak akan terasa menakutkan, justru menjadi pengalaman yang membumi dan sulit dilupakan.

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan kuliner ekstrem Bali?

Kuliner ekstrem Bali adalah makanan tradisional yang menggunakan bahan, proses, atau cara konsumsi yang tidak umum bagi kebanyakan orang luar. Ekstremnya bisa berasal dari bahan seperti darah, keong sawah, ulat sagu, atau dari teknik memasak tradisional yang intens, seperti pengasapan dalam bambu dan penggunaan rempah dalam jumlah besar.

2. Apakah kuliner ekstrem Bali aman untuk dikonsumsi?

Menurut pedoman BPOM dan literatur pangan tradisional, kuliner ekstrem Bali aman dikonsumsi selama dimasak matang dan berasal dari sumber yang jelas. Sebagian besar makanan ini justru dimasak lama dengan suhu tinggi dan rempah antimikroba alami seperti bawang, lengkuas, dan kunyit.

3. Mengapa banyak kuliner ekstrem Bali hanya tersedia di waktu tertentu?

Banyak kuliner ekstrem Bali terkait langsung dengan adat, musim, dan ketersediaan bahan. Lawar tertentu hanya dibuat saat upacara, sate pasar hanya muncul pagi hari, dan beberapa bahan pangan hanya tersedia di musim tertentu. Inilah sebabnya jam operasionalnya sering terbatas.

4. Apakah wisatawan boleh mencoba kuliner ekstrem Bali?

Wisatawan boleh mencoba selama menghormati adat setempat, tidak memaksa, dan memilih tempat yang memang menjual untuk konsumsi umum. Untuk kuliner yang bersifat sakral atau langka, sebaiknya mengikuti arahan warga lokal.

5. Apa perbedaan kuliner ekstrem Bali dengan daerah lain di Indonesia?

Perbedaannya terletak pada konteks budaya. Di Bali, kuliner ekstrem hampir selalu terhubung dengan ritual, desa adat, dan sistem kepercayaan. Bukan sekadar “makanan aneh”, tetapi bagian dari keseharian dan spiritualitas masyarakatnya.

About the author

Dulunya suka travelling backpacker, sekrang suka liburan bersama keluarga

Leave a Reply

Proceed Booking