Disadur dari Youtube Fiersa Bersari
Liburan ke Bali sering kali identik dengan pantai berpasir putih dan hiburan malam yang gemerlap. Namun, bagi kamu yang mau melihat sisi lain Bali dan suka tantangan fisik, Pulau Dewata menawarkan petualangan spiritual yang gak terlupakan di atap tertingginya, Gunung Agung.
Gunung Agung adalah gunung berapi tipe stratovulkan yang terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Gunung ini merupakan titik tertinggi di Pulau Bali dengan ketinggian mencapai 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Berdasarkan perjalanan epik dari Fiersa Besari dalam seri “Atap Negeri”, mendaki Gunung Agung bukan hanya aktivitas fisik, tetapi sebuah ziarah menuju tempat yang disucikan oleh masyarakat Bali.
Sumber: Youtube @FiersaBersari
Gunung Agung – Menjelajahi Istana Dewata di Ketinggian 3.142 MDPL
Gunung Agung merupakan titik tertinggi di Bali dengan ketinggian sekitar 3.142 meter di atas permukaan laut (MDPL). Bagi masyarakat lokal, gunung ini dianggap sebagai tempat keramat yang menjadi singgasana para dewa.
Secara historis, gunung ini memiliki catatan vulkanik yang kuat, dengan letusan besar terakhir pada tahun 1963 dan aktivitas signifikan pada 2017 yang sempat mempengaruhi infrastruktur desa sekitar, termasuk jalur pipa air di Desa Selat Subudi.
Mendaki Gunung Agung memerlukan persiapan fisik yang sangat matang. Jalur yang dilalui, terutama melalui Pura Pasar Agung, menawarkan transisi medan yang menantang. Mulai dari hutan dengan akar pepohonan yang rapat hingga jalur bebatuan terbuka yang licin, terutama jika terkena sisa gerimis malam.
Data Kunjungan Wisatawan Bali 2024
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, pariwisata Bali terus menunjukkan tren positif. Pada Desember 2024 saja, tercatat sebanyak 551.100 kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat 16,54% dari bulan sebelumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik Bali, baik dari sisi pantai maupun pegunungan, tetap menjadi magnet utama pariwisata Indonesia di mata dunia.
Tips Pendakian Gunung Agung untuk Pemula dan Profesional
Kalau kamu berencana menyertakan pendakian Gunung Agung dalam itinerary liburan, berikut adalah poin penting yang harus diperhatikan:

- Pilih Jalur yang Tepat
Jalur Pura Pasar Agung dikenal lebih singkat namun sangat terjal dan didominasi bebatuan. Kalau kamu menginginkan jalur yang lebih umum, Besakih atau Pengubangan bisa menjadi alternatif.
- Manajemen Air
Di jalur pendakian, sumber air sangat terbatas dan sering kali kering tergantung cuaca. Pastikan membawa stok air botolan yang cukup dalam tas.
- Hormati Adat Lokal
Mengingat statusnya sebagai tempat suci, pendaki sangat disarankan untuk menjaga sikap dan mengikuti ritual sembahyang atau penghormatan yang dipandu oleh pemandu lokal atau guide.
- Perhatikan Logistik
Untuk lintas jalur, penggunaan carrier akan menambah beban stamina secara signifikan. Pastikan kamu memiliki manajemen waktu yang baik agar tidak terjebak kegelapan di jalur teknis.
Kamu harus benar-benar melihat dan memahami panduan lengkap untuk naik ke Gunung Agung, termasuk adat istiadat setempat supaya bisa mendapatkan pengalaman yang gak terlupakan.
Menikmati Sunset di Atas Awan
Salah satu momen mengesankan dalam pendakian adalah saat berkemah di “atas awan”. Di lokasi camp seperti Pos Amerika, Fiersa Bersari dan tim bisa menyaksikan matahari terbenam tepat di garis cakrawala yang sejajar dengan pandangan mata. Pengalaman ini memberikan perspektif berbeda tentang keindahan Bali yang gak akan di dapatkan di pinggir pantai Kuta maupun Seminyak.
FAQ
- Kapan waktu terbaik mendaki Gunung Agung?
Musim kemarau antara April hingga Oktober adalah waktu terbaik untuk menghindari jalur bebatuan yang licin akibat hujan.
- Apakah mendaki Gunung Agung wajib menggunakan guide?
Sangat disarankan. Selain faktor keamanan karena jalur yang teknis, guide lokal membantu memastikan pendaki menghormati aturan adat di kawasan suci.
- Berapa biaya masuk ke tempat wisata di Bali secara umum?
Harga bervariasi, namun untuk desa wisata seperti Desa Pinggan atau area suci berkisar antara Rp10.000 hingga Rp25.000. Ini berdasarkan referensi harga di tahun 2024-2025.
Artikel ini disadur dari pengalaman dokumenter Fiersa Besari di Gunung Agung dengan penyesuaian data terkini dari lembaga terkait.
