Pernahkah kamu merasa penat dengan kesibukan Bali Selatan yang semakin padat? Kali ini Lensa Jalan mau ajak kamu melipir ke arah utara, tepatnya ke kawasan perbukitan Banjar, dekat Lovina, kawasan yang dikenal dengan lumba-lumbanya. Di sana, berdiri sebuah mahakarya spiritual bernama Brahmavihara Arama.
Banyak yang menyebutnya sebagai “Borobudurnya Bali”. Tapi bagi Lensa Jalan tempat ini lebih dari sekadar replika. Ia adalah simbol harmoni yang nyata.
Mengapa Harus ke Brahmavihara Arama?
Kamu akan merasakan suasana yang syahdu dan tenang disini. Terletak di ketinggian, kamu akan disambut udara sejuk dan pemandangan laut Bali Utara dari kejauhan.
Berdasarkan data dari Kementerian Agama Republik Indonesia, Brahmavihara Arama merupakan vihara Buddha terbesar di Bali. Dibangun pada tahun 1970, tempat ini bukan sekadar objek wisata, melainkan tempat meditasi aktif bagi para biksu dan umat Buddha dari seluruh dunia.
Menjelajahi Sudut Estetik yang Penuh Makna
Setelah Lensa Jalan berhasil kesana dan menjelajahi keseluruhannya, Lensa Jalan mau rekomendasikan spot yang wajib kamu berikan atensi lebih:
Sumber: Youtube @Bottelmaniabali
1. Stupa Raksasa “Mini Borobudur”

Sumber: Dewata News
Inilah ikon utama dari Brahmavihara Arama. Terletak di bagian paling atas, strukturnya memang menyerupai Candi Borobudur di Jawa Tengah. Bedanya, di sini kamu dikelilingi taman bunga kamboja yang harum dan latar belakang pegunungan hijau.
Kalau kamu perhatikan lebih dekat, ukiran batu di Mini Borobudur ini menggunakan batu padas khas Bali yang berwarna abu-abu gelap. Ini adalah bukti perpaduan unik antara ajaran Buddha dan keahlian tangan seniman lokal Banjar.
Uniknya, Lensa Jalan juga melihat ada beberapa biksu berjalan mengelilingi stupa searah jarum jam. Gak mau ketinggalan, Lensa Jalan ikutan mencoba, keliling sebanyak 3 kali sambil mengatur napas. Rasanya selain unik, ada ketenangan yang merayap masuk. Ini juga salah satu cara terbaik menikmati tempat ini selain lewat lensa kamera.
2. Ruang Meditasi yang Hening
Kalau Stupa Mini Borobudur adalah wajah dari Brahmavihara Arama, maka Ruang Meditasinya adalah jantungnya. Banyak turis hanya sibuk berfoto di pelataran luar, namun Lensa Jalan memutuskan untuk melepas alas kaki dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang disebut-sebut sebagai salah satu titik paling tenang di Bali Utara.
Begitu melewati pintu kayu besarnya, atmosfer seketika berubah. Lantai batu yang dingin menyentuh telapak kaki, memberikan sensasi sejuk yang kontras dengan udara perbukitan Banjar yang mulai menghangat di luar. Di dalam, pencahayaannya temaram, hanya mengandalkan cahaya alami yang masuk lewat celah-celah arsitektur Bali yang khas.
Di ujung ruangan, terdapat altar dengan patung Buddha berwarna emas yang duduk dengan anggun. Harum dupa tipis menyapa indra penciuman, menciptakan suasana yang seketika menurunkan detak jantung. Gak ada suara bising motor, gak ada obrolan turis, hanya suara angin yang sesekali menyelinap masuk.
Cobalah duduk di salah satu bantalan atau biasa disebut zafu, yang tersedia di tepi ruangan. Pejamkan mata selama 2 menit. Rasakan bagaimana pikiranmu perlahan-lahan mengendap. Inilah real healing yang sesungguhnya buat Lensa Jalan
3. Arsitektur Akulturasi Bali Buddha
Sumber: Youtube @dayuarik23
Banyak orang bingung saat pertama kali sampai di gerbang Brahmavihara Arama. “Ini pura atau vihara?” Pertanyaan itu akan kalian dengar, atau bahkan kamu sendiri akan bertanya-tanya dalam hati.
Jawabannya adalah, ini mahakarya akulturasi. Lensa Jalan berani bilang bahwa Brahmavihara Arama adalah salah satu yang paling unik karena ia “berbicara” dalam dua bahasa budaya sekaligus, yaitu Bali dan Buddha.
Saat saya menyusuri tiap jengkal bangunannya, saya menyadari bahwa akulturasi di sini bukan sekadar hiasan. Ini adalah bentuk penghormatan mendalam terhadap tanah Bali.
Dinding dan gerbang vihara ini tidak menggunakan semen polos. Hampir seluruh permukaannya dipahat menggunakan batu padas abu-abu yang biasa kamu temukan di pura-pura besar seperti Besakih atau Lempuyang. Motifnya pun sangat Bali banegt, relief bunga-bungaan dan sulur-suluran yang detail, namun menceritakan kisah-kisah dalam ajaran Buddha.
Yang paling menarik perhatian Lensa Jalan adalah pembagian zonanya. Meski ini tempat ibadah umat Buddha, tata letak bangunannya mengikuti konsep Tri Mandala khas Bali (Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala). Semakin tinggi kamu melangkah ke arah Stupa Mini Borobudur, semakin suci pula suasananya.
Tips Penting Sebelum Kamu Berangkat
Berdasarkan pengalaman saat Lensa Jalan berkunjung ke sana, jangan sampai melakukan kesalahan kecil ini:
- Pakaian
Gunakan pakaian yang sopan, menutup bahu dan lutut. Kalau kamu terlanjut memakai celana pendek, tenang saja, ada penyewaan kain sarung di depan pintu masuk.
- Akses Jalan
Jalan menuju lokasi cukup menanjak namun sudah beraspal mulus. Cocok untuk motor maupun mobil.
- Biaya
Tiket masuk sangat terjangkau, sekitar Rp20.000. Tapi sebaiknya siapkan uang tunai karena sinyal untuk QRIS kadang gak stabil di area perbukitan.
Cara ke Brahmavihara Arama dari Lovina
Perjalanan dari pusat Lovina menuju Brahmavihara Arama hanya memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit dengan berkendara ke arah barat menuju Desa Banjar.
Kamu bisa memulai perjalanan dengan menyusuri jalan raya utama Seririt-Singaraja, lalu ambil jalur belok kiri tepat di pertigaan yang menuju ke arah Pemandian Air Panas Banjar (Hot Spring).
Jalannya sudah beraspal mulus namun akan semakin menanjak dan berkelok saat kamu mulai memasuki area perbukitan. Jadi pastikan kendaraanmu dalam kondisi prima karena tanjakannya cukup terjal.
FAQ
1. Apakah orang non Buddha boleh masuk ke Brahmavihara Arama?
Sangat boleh. Tempat ini terbuka untuk umum tanpa memandang agama, asalkan tetap menjaga sopan santun dan ketenangan karena ada orang yang sedang beribadah.
2. Kapan waktu terbaik untuk berkunjung?
Pagi hari sebelum jam 10.00 atau sore hari setelah jam 16.00 agar tidak terlalu panas, mengingat area terbukanya cukup luas.
3. Apakah boleh menerbangkan drone di area Vihara?
Secara umum, kamu harus meminta izin khusus kepada pengelola agar tidak mengganggu ketenangan pengunjung yang sedang bermeditasi.
4. Apakah ada fasilitas umum yang memadai?
Ya, tersedia area parkir luas, toilet bersih, dan beberapa warung kecil di luar area vihara untuk membeli air mineral.
Penutup
Brahmavihara-Arama bukan hanya tentang “Mini Borobudur” untuk konten media sosialmu. Ini adalah tempat untuk recharge energi. Setelah puas berkeliling, Lensa Jalan sarankan kamu mampir ke Pemandian Air Panas Banjar yang hanya berjarak 10 menit dari sini untuk menyempurnakan perjalanan healingmu.
Bagaimana? Sudah siap memasukkan Bali Utara ke dalam bucket list perjalananmu berikutnya?
