Semarang bukan cuma soal Lawang Sewu atau Kota Lama. Kalau kamu datang ke sini tanpa mencicipi kulinernya, rasanya seperti nonton film tapi setengah jalan keluar bioskop. Kota ini punya kekayaan kuliner yang unik, perpaduan antara cita rasa Jawa, Tionghoa, dan pengaruh kolonial Belanda yang menghasilkan sajian-sajian yang susah kamu temukan di tempat lain.
Saat Lensa Jalan pertama kali menjelajahi Semarang, salah satu hal yang paling berkesan justru bukan tempat wisatanya, melainkan pengalaman makan di warung-warung sederhana yang ternyata punya sejarah panjang. Dari lunpia yang renyah sampai nasi gandul yang gurih, setiap suapan terasa seperti cerita tersendiri.
Nah, kalau kamu lagi bingung harus makan apa di Semarang, Lensa Jalan hadir untuk bantu kamu. Berikut 8 kuliner Semarang yang sayang banget untuk dilewatkan.
1. Lunpia Cik Me Me: Lunpia Goreng Legendaris yang Selalu Ramai

Sumber: LCM (Lunpia Cik Me Me)
Kalau ngomongin kuliner wajib coba di Semarang, lunpia pasti selalu jadi yang pertama disebut. Dan salah satu nama yang paling sering muncul adalah Lunpia Cik Me Me di Jl. Gajahmada, yang buka setiap hari, mulai jam 05.00 WIB sampai jam 22.00 WIB.
Lunpia di sini beda dari gorengan biasa. Isinya campuran rebung (bambu muda), udang, dan telur yang dibungkus kulit tipis lalu digoreng sampai kecokelatan. Gigitannya renyah di luar, gurih dan sedikit manis di dalam. Disajikan dengan saus manis, daun bawang, dan cabai rawit, rasanya benar-benar nendang.
Tempat ini termasuk yang paling populer dan sering ramai pengunjung, baik wisatawan maupun warga lokal. Jadi jangan kaget kalau tempat ini selalu padat, harus punya hati yang sabar ya!
2. Ayam Goreng Pak Supar: Ayam Goreng Rumahan yang Bikin Nagih

Sumber: Mung Saga
Ayam Goreng Pak Supar di Jl. Moh. Suyudi adalah bukti nyata bahwa makanan sederhana bisa jadi luar biasa kalau bumbunya pas. Warung ini sudah dikenal lama oleh warga Semarang sebagai tempat makan siang favorit, terutama karena cita rasa ayam gorengnya yang autentik dan jauh dari kesan restoran.
Ayamnya digoreng dengan bumbu rempah yang meresap sampai ke dalam daging, hasilnya empuk di dalam dan sedikit crispy di luar. Biasanya disajikan dengan nasi putih, sayur lodeh, dan sambal yang sederhana tapi bikin ketagihan.
Tempatnya memang tidak mewah, tapi justru itu yang bikin suasananya terasa hangat dan homey. Kalau kamu suka kuliner rumahan yang jujur rasanya, Ayam Goreng Pak Supar wajib masuk daftar. Ayam Goreng Pak Supar buka setiap hari, dari jam 10.00 WIB sampai jam 22.30 WIB.
3. Soto Bangkong: Semangkuk Soto Semarang yang Sudah Bertahan Puluhan Tahun

Sumber: Syarif Hidayat Official
Soto Bangkong adalah soto versi Semarang yang paling legendaris. Berlokasi di kawasan Bangkong Plaza, warung soto ini sudah beroperasi sejak lama dan tetap ramai dari generasi ke generasi.
Yang membedakan soto Semarang dari soto daerah lain adalah kuahnya yang bening, gurih, dan tidak terlalu berat. Isinya biasanya ada ayam suwir, bihun, telur, dan taoge, lalu disiram kuah panas yang aromatik. Rasanya ringan tapi tetap nampol.
Soto Bangkong sering penuh di jam sarapan dan makan siang, jadi datanglah sedikit lebih awal kalau tidak mau menunggu lama. Banyak pengunjung yang sudah makan di sini sejak kecil dan tetap balik lagi sampai sekarang karena rasanya konsisten.
4. Loenpia Mbak Lien: Lunpia Basah yang Tidak Kalah Ikonik

Sumber: Regina Rasyid (Rere)
Belum puas dengan lunpia goreng? Coba juga Loenpia Mbak Lien di Gang Grajen. Bedanya, di sini kamu bisa mencoba lunpia basah, yaitu lunpia yang tidak digoreng, disajikan langsung dengan kulit yang lembut dan lumer.
Teksturnya jelas berbeda dari yang goreng. Lebih lembap, lebih soft, dan rasa rebungnya lebih terasa karena tidak tertutupi renyahnya kulit goreng. Buat sebagian orang, justru versi basah ini yang lebih autentik karena konon begitulah lunpia awalnya dibuat.
Lokasi Gang Grajen sendiri punya nilai historis tersendiri, kawasan ini dikenal sebagai salah satu area pecinan lama di Semarang. Jadi selain makan, kamu juga bisa merasakan atmosfer kampung tua yang khas. Loenpia Mbak Lien buka setiap hari, Senin – Rabu di jam 07.30 WIB – 21.30 WIB, dan Kamis – Minggu di jam 07.30 WIB – 22.00 WIB.
5. Warung Makan Mbak Tum: Gudeg Koyor Semarang yang Unik dan Gurih

Sumber: Thomas Aquino
Kalau kamu pikir gudeg hanya ada di Yogyakarta, Semarang punya jawabannya sendiri: Gudeg Koyor. Dan salah satu tempat paling dikenal untuk mencicipinya adalah Warung Makan Mbak Tum.
Yang bikin berbeda, gudeg Semarang menggunakan koyor, yaitu urat atau tendon sapi yang dimasak lama sampai empuk dan kenyal. Teksturnya unik banget, lebih gelatin dibanding daging biasa, dan menyerap bumbu gudeg dengan sempurna. Rasanya gurih, sedikit manis, dan ada sensasi kenyal yang bikin kamu penasaran untuk terus makan.
Gudeg Koyor biasanya lebih mudah ditemukan di pagi hari atau malam hari. Khusus untuk Warung Makan Mbak Tum, buka setiap hari, dari jam 17.00 WIB – 02.00 WIB. Ini salah satu kuliner khas Semarang yang benar-benar tidak ada duanya.
6. Toko Oen: Es Krim Jadul dan Suasana Kolonial yang Tidak Tergantikan

Sumber: Olivia Jaya
Setelah capek jalan-jalan, Toko Oen di Jl. Pemuda adalah tempat sempurna untuk bersantai sejenak. Toko ini bukan sekadar tempat makan es krim, tapi juga sebuah perjalanan ke masa lalu.
Interior Toko Oen masih mempertahankan nuansa kolonial Belanda, dengan meja kursi klasik, dinding vintage, dan suasana yang tenang. Menu andalannya adalah es krim dengan berbagai rasa yang tidak terlalu manis dan terasa old-school banget, plus aneka kue dan jajanan tempo dulu yang susah kamu temukan di kafe modern.
Saat Lensa Jalan mampir ke sini, rasanya seperti duduk di kafe era 1930an. Tidak ada yang terburu-buru, semua santai. Cocok banget buat kamu yang mau istirahat dari suasana kota sambil menikmati sesuatu yang berbeda dari tempat ngopi kekinian.
Perlu diingat, karena Toko Oen adalah tempat yang sudah bersejarah, cek informasi terbaru sebelum berkunjung untuk memastikan kondisi operasionalnya. Untuk saat ini, tahun 2026, Toko Oen buka setiap hari, mulai dari jam 10.00 WIB – 22.00 WIB.
7. Ventura Taman Kuliner by Kekancan Group: Spot Kuliner Modern Pilihan Keluarga

Sumber: Ventura Taman Kuliner
Buat kamu yang datang bersama keluarga atau rombongan dan ingin suasana makan yang lebih modern dan santai, Ventura Taman Kuliner by Kekancan Group bisa jadi pilihan menarik. Tempat ini buka setiap hari, dari jam 07.00 WIB – 22.00 WIB.
Ini adalah kawasan kuliner kontemporer yang menawarkan berbagai pilihan menu dalam satu area, jadi semua anggota keluarga bisa memilih sesuai selera masing-masing. Suasananya lebih terbuka dan casual, cocok untuk makan malam atau sekadar kumpul-kumpul sore hari.
Keberadaan spot seperti ini di Semarang menunjukkan bahwa kota ini terus berkembang dalam hal kuliner, tidak hanya mempertahankan yang tradisional, tapi juga menghadirkan pilihan yang relevan untuk generasi sekarang.
8. Nasi Gandul Pak Memet: Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan

Sumber: Bhr
Rekomendasi kuliner di Semarang terakhir adalah Nasi Gandul Pak Memet di Jl. Dokter Cipto. Kalau kamu belum pernah dengar nasi gandul, ini adalah sajian nasi dengan kuah daging sapi berbumbu rempah yang kaya, mirip semur tapi lebih ringan dan aromatik.
Kata “gandul” sendiri konon merujuk pada cara penyajiannya, nasi ditaruh di atas daun pisang yang “menggantung” di tepi mangkuk. Kuahnya gurih, sedikit manis, dan perpaduan dagingnya membuat satu porsi terasa sangat memuaskan.
Nasi Gandul Pak Memet dikenal sebagai salah satu versi yang paling autentik dan konsisten rasanya. Banyak orang yang sengaja datang jauh-jauh hanya untuk menikmati semangkuk nasi gandul di sini. Ini bukan kuliner yang akan kamu temukan di luar Semarang, jadi jangan sampai dilewatkan. Nasi Gandul Pak Mamet buka setiap hari, dari jam 16.30 WIB – 21.30 WIB.
Tips Wisata Kuliner di Semarang Biar Tidak Salah Langkah
Biar perjalanan kuliner kamu di Semarang lebih efisien dan menyenangkan, berikut beberapa tips praktis yang bisa kamu terapkan:
- Mulai pagi, makan lebih banyak: Beberapa tempat seperti soto dan gudeg koyor lebih ramai di pagi hari dan bisa habis lebih cepat. Datang lebih awal adalah strategi terbaik.
- Rencanakan rute berdasarkan lokasi: Kelompokkan tempat makan yang berdekatan supaya kamu tidak bolak-balik jauh. Misalnya, Lunpia Cik Me Me dan Toko Oen sama-sama ada di area tengah kota.
- Jangan makan terlalu kenyang di satu tempat: Karena kamu mau mencicipi banyak kuliner, cukup pesan 1-2 porsi di setiap tempat. Ini bagian dari strategi wisata kuliner yang efektif.
- Selalu cek jam buka sebelum berangkat: Jam operasional warung tradisional bisa berubah, terutama saat hari libur nasional atau ada keperluan mendadak.
- Bawa uang tunai: Tidak semua warung kuliner legendaris di Semarang menerima pembayaran digital, jadi siapkan uang tunai secukupnya.
- Manfaatkan pagi dan malam hari: Semarang punya kuliner yang berbeda di tiap waktu. Pagi untuk soto dan gudeg, siang untuk ayam goreng dan lunpia, malam untuk taman kuliner atau nasi gandul.
Penutup
Semarang bukan cuma kota yang penuh tempat wisata budaya, tapi juga kota yang kaya cita rasa. Dari lunpia yang renyah, soto bening yang hangat, gudeg koyor yang unik, sampai es krim jadul di Toko Oen, setiap kuliner punya cerita dan karakter tersendiri. Tidak perlu bingung lagi harus makan apa, karena sudah ada rekomendasi dari Lensa Jalan.
Pastikan kamu selalu cek informasi terbaru sebelum mengunjungi tempat-tempat di atas, karena jam buka dan kondisi operasional bisa berubah sewaktu-waktu. Yang paling penting, nikmati setiap suapan dan jadikan pengalaman kuliner ini sebagai bagian dari cerita perjalananmu di Semarang. Jangan lupa untuk membawanya pulang sebagai oleh-oleh khas Semarang ya.
FAQ
Lunpia adalah kuliner paling identik dengan Semarang. Selain itu, soto Semarang, gudeg koyor, dan nasi gandul juga termasuk makanan khas yang sulit ditemukan di daerah lain dengan cita rasa yang persis sama.
Lunpia goreng memiliki kulit yang renyah dan crispy karena digoreng, sementara lunpia basah disajikan tanpa digoreng sehingga kulitnya lebih lembut. Keduanya memiliki isi yang serupa, yaitu rebung, udang, dan telur, tetapi memberikan pengalaman makan yang berbeda.
Nasi gandul adalah sajian nasi dengan kuah daging sapi berbumbu rempah yang gurih dan sedikit manis. Nama “gandul” konon berasal dari cara penyajiannya, yaitu nasi yang diletakkan di atas daun pisang yang menggantung di tepi wadah. Ini adalah kuliner khas Semarang yang belum tentu kamu temukan di kota lain.
Pagi hari adalah waktu terbaik untuk mencicipi soto dan gudeg koyor karena biasanya habis lebih cepat. Siang cocok untuk lunpia dan ayam goreng, sedangkan malam hari bisa dinikmati untuk kawasan taman kuliner atau nasi gandul. Rencanakan kunjunganmu sesuai waktu agar tidak kehabisan.
Sebagian besar kuliner Semarang cukup ramah untuk anak-anak karena tidak terlalu pedas dan rasanya cenderung gurih-manis. Spot seperti Toko Oen dengan es krim jadulnya atau kawasan taman kuliner modern juga bisa jadi pilihan yang nyaman untuk keluarga dengan anak kecil.
