Bali selalu punya cara unik menghadirkan pengalaman yang berbeda di setiap musimnya, termasuk saat Ramadan. Jika sebelumnya lensa jalan sudah membahas berbagai sisi Pulau Dewata seperti 10 Aktivitas Unik Anti Mainstream di Bali dari Guide Lokal, mengulas kuliner tradisional ekstrem, hingga membedah makna budaya, maka kali ini kita masuk ke suasana yang berbeda: Ramadan di Bali.
Pulau yang identik dengan Nyepi dan pengalaman menginap hening ini ternyata juga menawarkan pengalaman ngabuburit yang tidak kalah menarik. Bahkan jika kamu tertarik dengan sisi kuliner yang lebih berani, Ramadan tetap memberi warna tersendiri. Sebelumnya, lensa jalan juga telah merangkum rekomendasi berbuka. Namun, ngabuburit bukan hanya soal tempat makan. Ini tentang bagaimana kamu mengisi waktu menjelang magrib dengan pengalaman yang bermakna.
Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, wilayah Denpasar dan Badung menjadi pusat aktivitas masyarakat Muslim, sementara kawasan seperti Ubud, Uluwatu, dan Sanur tetap menjadi magnet wisatawan domestik. Kombinasi inilah yang membuat ngabuburit di Bali bisa terasa sangat beragam: dari tebing sunyi hingga kegiatan sosial yang hangat.
Berikut tujuh aktivitas ngabuburit yang lensa jalan jalani langsung dan benar-benar memberi pengalaman berbeda.
1. Menikmati Sunset Dramatis dari Tebing Uluwatu
Ngabuburit di Uluwatu berbeda dari pantai biasa. Di sini, kamu berada di atas tebing tinggi yang langsung menghadap Samudra Hindia. Lensa jalan tiba sekitar pukul 16.45 WITA agar masih mendapat cahaya terang sebelum golden hour.
Saat matahari mulai turun, langit perlahan berubah dari biru terang menjadi gradasi jingga, merah muda, lalu ungu. Ombak besar terlihat menghantam tebing di bawah, menciptakan suara alam yang konstan dan menenangkan.
Tidak ada aroma makanan atau hiruk pikuk pasar, hanya angin laut yang kuat dan panorama luas tanpa batas. Ini cocok untuk kamu yang ingin ngabuburit sambil refleksi diri.
Lokasi: Kawasan Uluwatu, Pecatu, Badung
Waktu ideal: 16.45–18.15 WITA
Biaya masuk area: Sekitar Rp30.000 (dapat berubah)
Tips penting:
Gunakan sepatu nyaman karena area berbatu. Hindari berdiri terlalu dekat tepi tebing, dan perhatikan barang bawaan karena monyet sering berkeliaran.
2. Mengikuti Kelas Memasak Menu Bali Halal di Denpasar
Alih-alih hanya membeli takjil, lensa jalan mencoba mengisi waktu dengan belajar memasak menu khas Bali versi halal. Kelas biasanya dimulai sekitar pukul 15.30 WITA. Kamu akan diajak mengenal bumbu dasar Bali seperti base genep yang kaya rempah: kunyit, jahe, serai, kemiri, dan lengkuas. Aroma rempah memenuhi ruangan sejak awal proses menumis.
Menu yang lensa jalan buat adalah ayam betutu halal dan sate lilit ayam. Proses membungkus ayam dengan daun pisang lalu memanggangnya perlahan memberi sensasi tradisional yang kuat.
Ketika azan magrib tiba, kamu berbuka dengan hasil masakan sendiri. Rasanya tentu lebih bermakna karena ada proses dan cerita di baliknya.
Lokasi umum: Area Denpasar atau Ubud
Durasi kelas: 2–3 jam
Estimasi biaya: Mulai Rp350.000–Rp700.000 tergantung paket
Tips:
Pastikan penyelenggara menyediakan bahan halal jika itu menjadi prioritas kamu.
3. Trekking Ringan di Tegalalang Saat Cahaya Keemasan
Tegalalang tidak hanya indah pagi hari. Menjelang sore sekitar pukul 16.30 WITA, cahaya matahari menciptakan efek keemasan di permukaan sawah bertingkat. Lensa jalan berjalan menyusuri jalur tanah kecil di antara terasering. Suasana relatif lebih tenang dibanding siang hari. Angin lembut menggerakkan tanaman padi, menciptakan suara gesekan alami yang ritmis.
Kegiatan ini membuat tubuh tetap aktif, tetapi tidak terlalu melelahkan. Sekitar pukul 17.45, cahaya mulai meredup dan kamu bisa kembali menuju pusat Ubud untuk berbuka.
Lokasi: Tegalalang, Gianyar
Waktu terbaik: 16.30–18.00 WITA
Tiket masuk: Sekitar Rp15.000–Rp25.000
Tips:
Gunakan sandal atau sepatu anti selip karena jalur bisa licin setelah hujan.
4. Rooftop City View di Kuta atau Legian

Sumber: Review: The ONE Legian, Legian – Bali – Discover Your Indonesia
Jika kamu menginap di kawasan Kuta atau Legian, rooftop hotel atau kafe bisa menjadi alternatif ngabuburit yang nyaman.
Lensa jalan memilih rooftop dengan pemandangan ke arah laut. Sekitar pukul 17.00 WITA, kota masih sibuk di bawah, tapi dari atas suasananya terasa lebih tenang. Angin sepoi-sepoi dan langit mulai berubah warna. Minuman segar seperti jus jeruk atau infused water terasa menyegarkan saat berbuka nanti. Banyak tempat menyediakan area duduk santai tanpa harus memesan makanan berat sebelum magrib.
Lokasi: Kuta, Legian, Seminyak
Waktu ideal: 17.00–18.30 WITA
Tips:
Datang lebih awal untuk mendapatkan posisi duduk terbaik menghadap barat.
5. Bersepeda Santai di Pantai Mertasari Sanur
Pantai Mertasari cenderung lebih sepi dibanding Pantai Sanur utama. Lensa jalan menyewa sepeda sekitar pukul 17.00 WITA dan menyusuri jalur sepanjang pantai.
Jalur sepeda cukup nyaman dan aman. Banyak keluarga berjalan santai, anak-anak bermain pasir, dan suasana tidak terlalu ramai wisatawan asing. Udara sore terasa lembut dan tidak terlalu panas. Aktivitas ini cocok untuk kamu yang ingin tetap bergerak ringan sambil menikmati suasana pantai.
Lokasi: Pantai Mertasari, Sanur
Durasi ideal: 45–60 menit
Sewa sepeda: Mulai Rp25.000–Rp50.000 per jam
6. Berburu Takjil di Pasar Tradisional Denpasar
Ngabuburit juga bisa menjadi pengalaman kuliner yang berbeda jika kamu mengunjungi pasar tradisional.
Lensa jalan mendatangi salah satu pasar di Denpasar sekitar pukul 16.30 WITA. Meja-meja dipenuhi jajanan seperti klepon hijau cerah, bubur sumsum putih lembut dengan gula merah cair, dan pisang rai yang dibalut kelapa parut. Warna-warni kue tradisional menciptakan suasana visual yang khas. Harganya relatif terjangkau, dan kamu bisa mencoba banyak jenis tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Lokasi: Beberapa pasar tradisional di Denpasar
Waktu ramai: 16.00–18.00 WITA
7. Mengikuti Kajian Sore di Masjid Denpasar
Jika kamu ingin ngabuburit yang lebih spiritual, beberapa masjid di Denpasar dan Badung mengadakan kajian singkat menjelang magrib.
Lensa jalan pernah mengikuti kajian sekitar pukul 17.15 WITA di salah satu masjid besar Denpasar. Tema yang dibahas ringan, seperti makna kesabaran dalam puasa. Suasananya tenang, jamaah duduk rapi, dan waktu terasa cepat berlalu. Biasanya setelah kajian, panitia menyediakan takjil sederhana seperti kurma dan air mineral untuk berbuka bersama.
Lokasi: Masjid di Denpasar dan Badung
Waktu kajian: 17.00–18.00 WITA
Ngabuburit di Bali bisa kamu sesuaikan dengan suasana hati. Mau reflektif di tebing Uluwatu, aktif di sawah Tegalalang, produktif di kelas memasak, atau spiritual di masjid, semuanya tersedia.
Lensa jalan sudah mencoba langsung aktivitas-aktivitas ini, dan masing-masing memberi pengalaman yang berbeda. Tinggal kamu pilih, Ramadan tahun ini ingin kamu isi dengan cara yang seperti apa.
FAQ
- Jam berapa waktu magrib di Bali saat Ramadan?
Sekitar pukul 18.30–18.45 WITA, tergantung tanggal. Pastikan cek jadwal resmi Kementerian Agama RI. - Apakah Bali ramah bagi Muslim saat Ramadan?
Ya. Bali dikenal memiliki tingkat toleransi antarumat beragama yang tinggi. - Di mana ngabuburit paling tenang di Bali?
Uluwatu dan Tegalalang menawarkan suasana lebih sunyi dibanding pusat kota. - Apakah ada kegiatan sosial Ramadan di Bali?
Ya. Beberapa komunitas mengadakan pembagian takjil dan kegiatan sosial di Denpasar dan Badung.
