1.820.3345.33 Contact@TravelTourWP.com

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Ogoh-Ogoh Bali: Tradisi Unik Menjelang Nyepi, Makna Spiritual, dan Lokasi Pawai Terpopuler

Pawai Ogoh-Ogoh Bali menjelang Hari Raya Nyepi dengan patung raksasa berbentuk makhluk mitologi di jalan desa adat

Tanah Bali dikenal sebagai  tanah magis yang membuat budaya terasa benar-benar hidup, bukan sekadar dipajang sebagai atraksi wisata, selain tempat melukat, ada juga ritual lainnya yang tak kalah sensasional. Kalau kamu pernah berada di Pulau Dewata menjelang Hari Raya Nyepi, kamu pasti paham sensasi itu: malam mulai turun, suara gamelan baleganjur menggema keras di jalanan, obor-obor menyala di tengah kerumunan, lalu tiba-tiba muncul sosok raksasa dengan wajah garang, mata melotot tajam, taring mencuat, dan tubuh menjulang tinggi, diarak ramai-ramai oleh para pemuda desa dengan semangat yang membara. Suasananya bukan hanya meriah, tapi juga terasa mistis dan sakral, seolah Bali sedang menunjukkan sisi terdalam tradisinya. Patung raksasa itulah yang dikenal sebagai Ogoh-Ogoh.

Bagi wisatawan, ogoh-ogoh sering dianggap sekadar parade seru atau festival seni jalanan. Tapi bagi masyarakat Bali, ogoh-ogoh adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: simbol spiritual, ritual pembersihan, dan bagian penting dari siklus budaya menjelang Nyepi.

Lensa Jalan akan mengajak kamu memahami ogoh-ogoh secara lengkap: sejarahnya, maknanya, pengalaman menyaksikannya langsung di Bali, sampai itinerary Nyepi yang wajib kamu tahu kalau ingin merasakan Bali yang sesungguhnya.

Apa Itu Ogoh-Ogoh?

Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang biasanya berbentuk makhluk menyeramkan, seperti raksasa, setan, atau figur mitologi Bali. Ogoh-ogoh dibuat menjelang Hari Raya Nyepi dan diarak pada malam sebelum Nyepi, tepatnya saat upacara Pengerupukan.

Dalam tradisi Hindu Bali, ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala, yaitu energi negatif atau kekuatan chaos yang ada di alam semesta dan dalam diri manusia.

Jadi ogoh-ogoh bukan dibuat hanya untuk estetika. Ia adalah simbol dari hal-hal buruk yang harus “dibersihkan” sebelum memasuki hari suci Nyepi.

Sejarah Ogoh-Ogoh Modern: Tradisi Baru Sejak 1980-an

Banyak orang mengira ogoh-ogoh sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Padahal, menariknya, tradisi ogoh-ogoh dalam bentuk modern seperti sekarang sebenarnya relatif baru.

Ogoh-Ogoh mulai populer sejak era 1980-an.

Menurut berbagai catatan budaya Bali, ogoh-ogoh berkembang setelah Nyepi mulai dipromosikan lebih luas sebagai identitas Hindu Bali di era modern.

Pada masa itu, pemerintah daerah dan komunitas banjar mulai mendorong kreativitas pemuda desa untuk membuat simbol Bhuta Kala dalam bentuk patung besar.

Sejak tahun 1980-an, ogoh-ogoh kemudian menjadi:

  • sarana ekspresi seni pemuda banjar
  • ikon budaya Nyepi
  • festival tradisi tahunan yang semakin megah

Jadi bisa dibilang, ogoh-ogoh adalah tradisi spiritual lama yang diwujudkan dalam bentuk seni modern.

Inilah yang membuatnya begitu menarik: ia tradisi, tapi juga berkembang mengikuti zaman.

Jenis-Jenis Ogoh-Ogoh: Leak, Kala, hingga Dewata

Kalau kamu menonton ogoh-ogoh di Denpasar atau Gianyar, kamu akan sadar bahwa bentuknya tidak selalu sama. Ogoh-ogoh punya variasi karakter yang kaya, biasanya terinspirasi dari mitologi Hindu Bali.

Berikut jenis ogoh-ogoh yang paling sering muncul:

1. Ogoh-Ogoh Leak (Leyak)

Sumber: Best Time Go to Bali for Nyepi & Ogoh-Ogoh in March 2025

Leak adalah salah satu figur paling terkenal dalam budaya mistis Bali, sosok yang selalu berhasil memancing rasa takut sekaligus rasa penasaran. Dalam berbagai cerita rakyat dan kepercayaan lokal, leak biasanya digambarkan dengan wajah menyeramkan, lidah panjang yang menjulur, mata besar melotot tajam, serta tubuh yang menyerupai penyihir atau makhluk malam yang muncul dalam kegelapan. Dalam tradisi Bali, leak sering dikaitkan dengan energi gelap dan ilmu hitam, sehingga kehadirannya punya aura mistis yang sangat kuat. Karena visualnya yang dramatis dan nuansa “horor Bali banget”, ogoh-ogoh berbentuk leak hampir selalu menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian saat parade Nyepi berlangsung.

2. Ogoh-Ogoh Kala (Bhuta Kala)

Sumber: Bhuta Kala Dalam Ogoh-ogoh Bali: Simbolisme, Konsep Hindu Dharma dan Perayaan Hari Raya Nyepi – Victory News

Kala adalah bentuk ogoh-ogoh yang paling klasik dan paling sering dianggap sebagai wajah utama dari tradisi ini. Sosok Kala melambangkan raksasa energi chaos, biasanya digambarkan sebagai monster besar bertubuh menjulang, bertaring tajam, membawa senjata, dengan ekspresi penuh amarah yang seolah siap menerkam siapa pun di depannya. Dalam filosofi Hindu Bali, Kala bukan sekadar makhluk menakutkan, tetapi simbol dari nafsu, keserakahan, dan sisi gelap manusia yang harus dilepaskan sebelum memasuki kesucian Nyepi. Karena itulah ogoh-ogoh Kala hampir selalu menjadi pusat perhatian dan paling sering kamu temui dalam parade ogoh-ogoh terbesar, terutama di Denpasar yang dikenal paling meriah dan megah.  

3. Ogoh-Ogoh Dewata (Dewa atau Tokoh Epik)

Tidak semua ogoh-ogoh selalu tampil menyeramkan dengan wajah raksasa dan taring tajam. Di beberapa banjar, ogoh-ogoh justru dibuat dengan menggambarkan sosok-sosok yang lebih agung dan penuh makna, seperti dewa-dewa Hindu, tokoh epik dari Mahabharata atau Ramayana, hingga simbol keseimbangan alam semesta. Jenis ogoh-ogoh ini biasanya membawa pesan bahwa kehidupan selalu berjalan dalam dualitas: ada gelap dan terang, ada Bhuta Kala sebagai energi chaos, dan ada Dewata sebagai simbol kesucian. Karena itulah ogoh-ogoh dewata terasa lebih filosofis, artistik, dan sering memancarkan keindahan yang berbeda di tengah parade Nyepi yang penuh energi ritual.

Sumber: Mengenal Lebih Dekat Tradisi Kesenian Bali di Museum Ogoh-ogoh – Turisian.com

4. Ogoh-Ogoh Modern dan Kontemporer

Sumber: Potret Persiapan Pawai Ogoh-ogoh Modern di Bali

Dalam beberapa tahun terakhir, ogoh-ogoh juga mengalami perkembangan yang menarik. Tidak sedikit banjar yang mulai menghadirkan bentuk-bentuk lebih modern, misalnya dengan memasukkan unsur kritik sosial, menciptakan monster imajinasi baru, atau menggambarkan figur yang merepresentasikan isu-isu zaman sekarang. Kreativitas ini membuat ogoh-ogoh semakin relevan dengan generasi muda dan terasa seperti karya seni kontemporer di ruang publik. Meski begitu, dalam konteks ritual, ogoh-ogoh tetap tidak pernah lepas dari akar utamanya: simbol Bhuta Kala, energi negatif yang harus dibersihkan dan dilepaskan sebelum Bali memasuki keheningan suci Nyepi.

Ogoh-Ogoh dan Hubungannya dengan Nyepi

Banyak orang tahu Nyepi sebagai “hari sunyi” di Bali. Tapi yang jarang dipahami wisatawan adalah: Nyepi bukan hanya soal diam, tapi soal transisi spiritual besar.

Rangkaian Nyepi terdiri dari beberapa tahap:

  • Melasti (pembersihan diri ke laut)
  • Tawur Kesanga (ritual persembahan)
  • Pengerupukan (arak-arakan ogoh-ogoh)
  • Nyepi (hari hening total)

Ogoh-ogoh muncul pada malam Pengerupukan, sebagai puncak energi sebelum Bali memasuki keheningan total.

Malam itu Bali justru sangat ramai, penuh suara, penuh api, penuh teriakan, seolah semua energi negatif dikumpulkan… untuk dilepaskan.

Itinerary Nyepi Lengkap untuk Wisatawan

Kalau kamu ingin merasakan Nyepi dengan pengalaman maksimal, berikut itinerary lengkap ala Lensa Jalan.

H-3 Nyepi: Datang dan Persiapkan Logistik

Biasanya Bali mulai terasa berbeda beberapa hari sebelum Nyepi.

Tips:

  • belanja makanan dan kebutuhan hotel lebih awal
  • pastikan transportasi kamu jelas
  • booking hotel dengan fasilitas lengkap

Karena saat Nyepi, semua aktivitas berhenti total.

H-2 Nyepi: Menonton Melasti di Pantai

Melasti adalah ritual pembersihan diri dan simbol penyucian alam.

Lokasi populer:

  • Pantai Sanur
  • Pantai Kuta
  • Pantai Melasti Ungasan

Di sini kamu akan melihat umat Hindu Bali membawa pratima (simbol dewa) ke laut.

Suasananya sakral dan indah.

H-1 Nyepi: Malam Ogoh-Ogoh (Pengerupukan)

Inilah puncaknya.

Menjelang sore hingga malam, suasana Bali berubah total menjadi begitu hidup dan penuh energi. Jalanan mulai dipenuhi ogoh-ogoh raksasa yang diarak ramai-ramai, sementara suara gamelan baleganjur menghentak keras, menciptakan irama yang membuat jantung ikut berdebar. Di momen inilah Bali terasa sangat berbeda—ramai, magis, dan sakral sekaligus, seolah seluruh pulau sedang bersiap melepaskan segala energi negatif sebelum memasuki keheningan Nyepi.

Lokasi terbaik:

  • Denpasar (paling besar)
  • Gianyar (paling lokal)
  • Ubud (paling artistik)

Kalau kamu ingin menonton ogoh-ogoh dengan nyaman, ada beberapa hal penting yang perlu kamu perhatikan. Datanglah lebih awal karena jalanan biasanya mulai dipadati warga dan beberapa akses ditutup. Pastikan juga kamu tidak berdiri terlalu dekat dengan ogoh-ogoh saat diarak, terutama ketika patung diputar-putar karena bisa cukup berbahaya. Yang paling penting, ingat bahwa ini bukan sekadar pertunjukan wisata—hormati ritualnya, nikmati suasananya dengan penuh kesadaran, dan jangan hanya fokus untuk foto-foto saja.

Hari Nyepi: Bali Sunyi Total

Nyepi adalah satu-satunya hari di dunia di mana seluruh pulau berhenti.

Larangan utama disebut Catur Brata Penyepian:

  • tidak menyalakan api/lampu
  • tidak bepergian
  • tidak bekerja
  • tidak bersenang-senang

Bandara tutup total.

Jalan kosong.

Langit malam Bali saat Nyepi adalah salah satu yang paling indah karena tanpa polusi cahaya.

H+1 Nyepi: Ngembak Geni

Setelah Nyepi, Bali kembali hidup.

Hari ini disebut Ngembak Geni, simbol:

  • memulai lembaran baru
  • saling memaafkan
  • energi baru setelah keheningan

Wisatawan biasanya mulai kembali menikmati aktivitas normal.

Ogoh-Ogoh adalah Bali yang Sesungguhnya

Ogoh-ogoh bukan sekadar festival yang Instagrammable.

Ia adalah ritual, seni, dan filosofi hidup masyarakat Bali.

Di malam sebelum Nyepi, Bali menunjukkan bahwa kebisingan dan kekacauan harus dilepas, agar keheningan bisa bermakna. Kalau kamu ingin melihat Bali yang paling autentik, datanglah saat ogoh-ogoh. Karena di situlah kamu benar-benar mengerti: Bali bukan hanya destinasi wisata, tapi peradaban budaya yang hidup.

FAQ

1. Apa makna spiritual Ogoh-Ogoh dalam tradisi Nyepi?

Ogoh-ogoh memiliki makna spiritual sebagai simbol Bhuta Kala, yaitu energi negatif atau kekuatan chaos yang dipercaya ada di alam dan dalam diri manusia. Arak-arakan ogoh-ogoh menjelang Nyepi menjadi ritual untuk “mengumpulkan” dan melepaskan energi buruk tersebut, sehingga masyarakat Bali dapat memasuki hari Nyepi dalam keadaan lebih bersih secara batin dan spiritual.

2. Kenapa Ogoh-Ogoh harus diarak sebelum dibakar?

Ogoh-ogoh tidak langsung dibakar karena proses arak-arakan adalah bagian penting dari ritual Pengerupukan. Patung tersebut diarak keliling desa sebagai simbol bahwa energi negatif sedang “dikeluarkan” dari lingkungan masyarakat. Setelah itu, pembakaran dilakukan sebagai bentuk pemusnahan dan pelepasan Bhuta Kala agar tidak mengganggu keseimbangan alam.

3. Apakah Ogoh-Ogoh tradisi kuno atau budaya modern Bali?

Walaupun konsep Bhuta Kala sudah ada dalam kepercayaan Hindu Bali sejak lama, ogoh-ogoh dalam bentuk patung raksasa seperti sekarang baru berkembang pesat sejak era 1980-an. Tradisi ini menjadi ruang ekspresi seni pemuda banjar sekaligus simbol budaya Nyepi modern yang terus berkembang hingga hari ini.

4. Apakah wisatawan boleh ikut menyaksikan atau terlibat dalam ritual Ogoh-Ogoh?

Wisatawan sangat diperbolehkan menyaksikan ogoh-ogoh, bahkan banyak turis yang datang khusus untuk pengalaman ini. Namun penting untuk tetap menghormati ritual, menjaga sikap sopan, tidak mengganggu jalannya prosesi, dan memahami bahwa ini adalah upacara sakral, bukan sekadar festival hiburan.

5. Apa yang harus dipersiapkan wisatawan jika berada di Bali saat Nyepi?

Jika kamu berada di Bali saat Nyepi, kamu perlu mempersiapkan diri karena seluruh aktivitas akan berhenti total selama 24 jam: bandara ditutup, jalanan kosong, dan wisatawan wajib tetap berada di area hotel. Sebaiknya pilih hotel dengan fasilitas lengkap, belanja kebutuhan sehari sebelumnya, dan gunakan Nyepi sebagai momen unik untuk merasakan Bali dalam keheningan yang sangat langka di dunia.

About the author

Dulunya suka travelling backpacker, sekrang suka liburan bersama keluarga

Leave a Reply

Proceed Booking