Siapa nih yang waktu pertama kali ke Singapura beranggapan kalau Negara tetangga ini sama seperti Kota besar lainnya di Asia Tenggara? Gak cuma kamu, Lensa Jalan pun juga sempat berpikiran seperti itu kok.
Pertama kali Lensa Jalan ke Singapura saat masih sekolah, dan ya langsung takjub dengan kemajuan dan modernisasinya. Bahkan pas tahun 2000an awal itu, sistem transportasi umumnya sudah oke banget. MRTnya menjangkau setiap daerah, begitu pula dengan busnya. Dan yang bikin paling kagum adalah bersih dan aman!
Apa yang Lensa Jalan rasakan ternyata sudah ada bukti penelitiannya loh. Kamu bisa baca di bawah sini.
Tapi siapa sangka, dibalik serunya Negara yang identik dengan Merlion ini, rupanya didukung banyaknya hal unik yang mungkin tidak kamu jumpai di Indonesia, bahkan Negara manapun.
Menurut laporan dari World Bank Group, Singapura secara konsisten menempati peringkat teratas dalam Ease of Doing Business Index. Hal itu menunjukkan tingkat efisiensi dan regulasi yang luar biasa ketat. Keteraturan inilah yang melahirkan keunikan yang kita lihat.
Singapura gak hanya unik karena tempatnya indah, tapi juga karena sistem hukum dan sosialnya yang sangat terorganisir, yang menjadi penyebab mudahnya melahirkan aturan yang kita anggap ‘nyeleneh’.
10 Hal Unik di Singapura yang Bikin Kamu Menggaruk Kepala
Lensa Jalan sudah beberapa kali blusukan ke Singapura. Bukan sekadar untuk jalan-jalan, tapi untuk menguji coba keunikan-keunikan ini. Berikut 10 hal paling unik yang Lensa Jalan temukan!
1. Aturan Denda Permen Karet (Si Paling Terkenal)
Sejak 1992, mengimpor dan menjual permen karet sudah dilarang di Singapura. Larangan unik ini bukan dibuat atas dasar iseng ya. Tapi untuk menjaga supaya lingkungan Negara ini tetap bersih.
Awalnya, permen karet sering jadi masalah karena ditempel sembarangan di kursi, pintu MRT, sampai sensor pintu otomatis pernah rusak gara-gara ulah iseng. Pemerintah akhirnya mengambil langkah tegas dengan melarang penjualannya. Ada pengecualian kalau untuk kesehatan ya, dan harus atas rekomendasi dokter setempat.
Lensa Jalan masih ingat saat pertama kali turun di Changi Airport. Di dekat pintu keluar terminal, ada papan pengumuman kecil bertuliskan “Chewing gum is not allowed to be sold or imported”.
Saat berjalan menyusuri Orchard Road, Lensa Jalan otomatis memandang trotoar yang super bersih. Gak ada noda hitam bekas permen karet yang biasa kita temukan di kota-kota besar lainnya. Bahkan di MRT, petugasnya pernah bilang dengan ramah tapi tegas, “Please avoid bringing chewing gum, it is restricted.” Rasanya kayak diingatkan hal kecil, tapi bikin sadar kebersihan di sini gak main-main.
Jangan coba-coba membawa permen karet saat masuk. Jika tertangkap, denda bisa mencapai SGD 100.000 loh!
2. Pohon ‘Super’ yang Menyala (Supertrees di Gardens by the Bay)

Berupa pohon buatan setinggi 25 sampai 50 meter yang bukan cuma hiasan, tapi juga berfungsi sebagai penangkap energi surya dan ventilasi untuk konservatori di sekitarnya. Perpaduan unik antara alam dan teknologi ya kan?
Begitu kaki melangkah masuk ke Gardens by the Bay, rasanya seperti masuk ke dunia lain. Udara hangat, angin lembut dari Marina Bay, dan di kamu akan melihat deretan pohon super berwarna ungu keemasan. Saat Lensa Jalan mendongak, lampu-lampu kecil mulai hidup perlahan di antara ratusan tanaman yang menempel di batangnya.
Saat malam semakin gelap, tiba-tiba musik orkestra terdengar, dan Supertrees menyala serempak. Cahaya biru, merah, dan hijau bergerak mengikuti irama. Lensa Jalanberdiri di bawah salah satunya, merasakan cahaya turun seperti hujan bintang. Rasanya campuran antara magical dan futuristik, seperti berada di film sci-fi tapi versi tropis dan penuh tanaman.
Di atas, sebagian pengunjung berjalan santai di OCBC Skyway, jembatan gantung yang menghubungkan beberapa Supertrees. Dari bawah, terlihat siluet mereka bergerak pelan, seolah sedang melayang di antara cahaya.
3. Air Terjun Indoor Tertinggi di Dunia
Singapura selalu punya cara untuk membuat wisatawannya terpukau, dan salah satu yang paling spektakuler adalah Rain Vortex, air terjun indoor tertinggi di dunia yang berada di Jewel Changi Airport. Dengan tinggi 40 meter dan desain futuristik berbentuk cincin, tempat ini langsung jadi magnet bagi siapa saja yang baru mendarat di Singapura.
Begitu melangkah keluar dari terminal menuju area Jewel, Lensa Jalan langsung mendengar suara gemericik air, padahal aku sedang di dalam gedung. Saat mendekati pusat atrium, tiba-tiba pemandangannya terbuka, air jatuh lurus dari langit-langit kaca raksasa, tepat di tengah taman indoor yang dipenuhi tanaman hijau tropis.
Lensa Jalan berdiri dekat pagar kaca, dan percikan halus dari Rain Vortex terasa di kulit, segar seperti kabut hutan pagi. Cahaya dari atap kaca memantul ke air terjun, menciptakan efek pelangi tipis yang terlihat setiap kali aku berpindah posisi. Rasanya seperti berada di film futuristik, tapi versi yang menenangkan dan alami.
Saat malam tiba, suasananya semakin magis. Lampu-lampu warna-warni menyorot air terjun dan berubah sesuai musik. Pertunjukan cahaya membuat air tampak seperti tirai hologram, kadang biru lembut, kadang ungu dramatis. Orang-orang berhenti, mengeluarkan kamera, dan suasana berubah menjadi momen kolektif penuh kekaguman.
Di sekelilingnya, ada taman bertingkat, toko-toko modern, dan aroma kopi yang menyebar dari kafe sekitar. Semua berpadu menciptakan pengalaman yang sulit dipercaya berada di dalam bandara.
4. HDB Flats (Apartemen Rakyat) dengan Aturan Ketat

Selain terkenal sebagai kota modern, Singapura juga punya satu hal unik, yaitu HDB Flats apartemen rakyat yang dihuni lebih dari 80% warganya. Yang membuatnya menarik bukan hanya desainnya yang rapi dan tertata, tapi juga aturan ketat yang menjaga kenyamanan semua penghuni.
Saat berjalan di kawasan HDB di Tampines, suasananya benar-benar berbeda dari bayangan tentang perumahan padat penduduk. Jalannya bersih, gak ada motor parkir sembarangan, dan setiap blok punya area terbuka hijau yang dirawat rapi.
Di bawah salah satu blok, ada papan kecil berisi aturan: “No littering. No feeding pigeons. No illegal renovation. Quiet hours apply.” Aturannya sederhana, tapi tegas.
Lensa Jalan iseng masuk ke lift bersama beberapa penghuni HDB. Di dalamnya terpampang lagi daftar peraturan, mulai dari larangan merokok, batas waktu renovasi (hanya boleh jam 9 pagi sampai 6 sore), sampai kewajiban melaporkan hewan peliharaan tertentu. Suasana lift tenang, tidak ada suara bising atau bau aneh.
Saat sore tiba, Lensa Jalan coba berjalan melewati void deck, area kosong di lantai dasar HDB. Ada anak-anak bermain, orang tua duduk santai, dan papan pengumuman komunitas. Disini kamu akan merasakan vibes yang damai, seperti ruang publik yang benar-benar dipakai dan dijaga.
Ada aturan jam tenang pada malam hari, jadi suara keras atau renovasi tidak boleh dilakukan setelah waktu tertentu. Benar-benar membuat lingkungan tetap damai meski tinggal berdekatan.
Semua aturan itu bukan untuk membatasi, tapi untuk membuat lingkungan tetap nyaman, aman, dan bersih.
5. Robot Pelayan di Kafe dan Rumah Sakit
Singapura memang selalu selangkah lebih maju dalam teknologi, dan salah satu hal unik yang paling terasa adalah robot pelayan yang sudah beroperasi di berbagai kafe dan rumah sakit. Bukan sekadar gimmick, para robot ini benar-benar membantu pekerjaan manusia dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pertama kali Lensa Jalan melihat robot pelayan adalah di sebuah kafe kecil di kawasan Funan Mall. Saat sedang menunggu pesanan, sebuah robot putih berbentuk tabung meluncur pelan ke arah meja. Di bagian “wajahnya” muncul tampilan digital tersenyum sambil berkata, “Your order is here!” dengan suara lembut yang terdengar ramah.
Robot itu berhenti tepat di samping, dan nampan di atasnya berputar sedikit memberi ruang buat Lensa Jalan mengambil minuman. Beberapa pengunjung lain menoleh, ada yang tersenyum, ada yang merekam video, rasanya seperti hidup di masa depan.
Pengalaman lain Lensa Jalan rasakan saat berkunjung ke sebuah rumah sakit di Singapura. Di lorong yang panjang dan bersih, sebuah robot pelayan melaju sambil membawa tray obat dan dokumen medis. Di atasnya ada tulisan: “Automated Delivery. Please keep clear.” Robot itu memindai ruangan, berhenti di pintu ICU, lalu mengeluarkan bunyi notifikasi kecil sebelum perawat mengambil barangnya.
Atmosfernya terasa sangat efisien dan terkoordinasi. Tidak ada kebingungan, tidak ada suara berlebihan. Hanya robot yang bekerja tenang membantu tugas berat para tenaga medis.
6. Kopi O dan Kopi C (Kode Rahasia Pesan Kopi)

Kalau kamu ke Singapura dan ke kedai kopi, mungkin yang terdengar di telinga adalah orang-orang yang memesan kopi dengan kalimat “one kopi c please!”. Apa itu kopi C?
Ternyata Singapura punya istilah tersendiri kalau mau pesan kopi. Inilah “kode” kopi dan artinya:
- Kopi = Kopi dan susu kental manis
- Kopi O = Kopi hitam tanpa susu
- Kopi C = Kopi ditambah evaporated milk dengan sedikit gula
- Siew Dai = Kurang manis
- Gao = Lebih pekat
- Kosong = Tanpa gula
Jadi, Lensa Jalan coba memesan Kopi C. Datanglah segelas kopi yang warnanya lebih ke coklat. Rasanya creamy tapi tidak terlalu manis. Lebih ringan daripada Kopi biasa dan lebih halus.
Bisa dibilang ini adalah bahasa lokal warga Singapura, bukan bahasa inggris resmi. Dan kamu harus tau ini, apalagi kalau penjualnya adalah orang tua.
7. Denda Jika Tidak Menyiram Toilet Umum

Singapura dikenal sebagai negara yang super bersih, dan salah satu hal unik yang membuatnya tetap seperti itu adalah aturan denda bagi siapa pun yang tidak menyiram toilet umum. Kedengarannya sederhana, tapi aturan ini benar-benar diterapkan dan diawasi.
Saat pertama kali masuk ke toilet umum di stasiun MRT City Hall, Lensa Jalan langsung terpaku pada sebuah tanda peringatan yang bertuliskan “Fine for not flushing: SGD 150.”
Toilet terlihat sangat bersih, lantainya kering, dan tidak ada bau mengganggu. Penjaga kebersihan mondar-mandir sambil memastikan semuanya tetap rapi.
Toilet di Singapura juga sudah memakai teknologi flush otomatis untuk mencegah orang lupa menyiram. Tapi tetap saja, kalau sistem otomatis gak ada, pengunjung wajib menekan tombol flush.
Saat keluar, Lensa Jalan melihat seorang petugas NEA (National Environment Agency) masuk membawa clipboard. Di Singapura, petugas seperti ini sesekali melakukan inspeksi acak, termasuk memastikan toilet umum bersih dan tidak ada yang melanggar aturan. Atmosfernya benar-benar tertib, tapi tetap ramah.
Aturan unik ini ada untuk menjaga standar kebersihan nasional dan menghindari bau tidak sedap yang dapat menyebabkan penyebaran bakteri. Pemerintah setempat juga bertujuan untuk memberikan edukasi bahwa ruang publik adalah tanggung jawab bersama, serta mendorong masyarakat tetap disiplin di tempat umum.
Dari sini gak heran kan kalau toilet umum di Singapura sering disebut sebagai salah satu yang terbersih di dunia?
8. Hanya Dua Negara yang Berbatasan Melalui Jembatan

Ada satu hal unik tentang Singapura yang tidak dimiliki negara lain di Asia Tenggara. Hanya ada dua negara yang terhubung langsung melalui jembatan internasional, yaitu Singapura dan Malaysia. Keduanya dihubungkan oleh Johor – Singapore Causeway dan Second Link Bridge, dua jembatan besar yang setiap hari dilalui ribuan orang.
Jembatan ini bukan cuma untuk kepentingan turis ya, tapi untuk kepentingan perdagangan dan transportasi juga. Tentunya mempermudah mobilitas kedua negara ini.
Lensa Jalan pernah melanjutkan liburan dari Singapura ke Johor bahru melalui jalan darat. Luar biasanya, selain harganya jauh lebih murah daripada naik pesawat, waktunya juga cepat. Lensa Jalan cukup naik bus dari woodlands untuk ke imigrasi keluar Singapura, dan dilanjutkan kembali dengan bus untuk masuk ke imigrasi Malaysia.
Biayanya gak sampai Rp50.000 untuk 1 orang, dan tidak ada ketentuan bagasi berlebihan. Antriannya juga cepat, tapi itu ketika Lensa Jalan berangkat saat hari kerja ya. Kalau weekend tentu bisa lebih lama.
Melintasi jembatan yang menghubungkan Singapura dan Malaysia memberikan pengalaman unik. Dalam hitungan menit, kamu berpindah negara dengan pemandangan laut di sampingmu. Ini salah satu hal yang membuat Singapura semakin menarik. Kecil secara ukuran, tapi luar biasa strategis.
9. Penggunaan Singlish (Bahasa Campuran)

Singapura dikenal sebagai negara multibahasa, dan salah satu hal unik yang langsung kamu temui saat datang adalah Singlish, bahasa campuran yang menggabungkan Inggris, Melayu, Hokkien, Tamil, hingga Kanton. Hasilnya? Cara bicara yang cepat, seru, dan punya karakter khas.
Tapi inilah yang membuat Lensa Jalan nyaman, khususnya buat kamu yang bahasa inggrisnya pas-pasan. Kamu gak perlu berbicara dengan tatanan bahasa yang sempurna. Misal nih, untuk bicara “kamu bisa gak?” biasanya dalam bahasa inggris formal adalah “can you do it?”, tapi dalam singlish cukup bilang, “you can or not?”
Ada juga imbuhan yang bikin unik dan menarik nih. Misal “ah” atau “leh”. Mari kita praktekan, untuk mengatakan kalimat “cuaca hari ini sangat panas”, mereka akan bilang, “today is so hot leh”
Percakapannya mengalir begitu natural. Campuran bahasa Inggris dan partikel seperti lah, lor, leh membuat suasananya terdengar santai dan penuh ekspresi.
Saat naik MRT menuju Orchard, pengumuman disana dalam bahasa Inggris, tapi begitu pintu terbuka, percakapan orang-orang di sekitar kembali ke Singlish. Rasanya seperti ada dua dunia, formal di sistem publik, santai di antara warganya.
Keunikan ini justru jadi simbol identitas lokal yang menunjukkan keberagaman etnis Singapura. Singlish bukan sekadar bahasa, tapi bagian dari budaya, kehangatan, dan humor masyarakatnya.
10. Taman Anti-Mainstream yang Penuh Kisah (Haw Par Villa)

Kalau biasanya taman wisata identik dengan bunga, patung lucu, atau suasana tenang, Singapura memiliki sesuatu yang benar-benar anti mainstream, yaitu Haw Par Villa. Taman penuh patung warna-warni, kisah legenda Tiongkok, hingga penggambaran moral yang tampil apa adanya. Unik, sedikit menyeramkan, tapi sangat berkesan.
Saat turun dari MRT Haw Par Villa, hawa panas siang hari langsung terasa, tapi begitu melangkah ke gerbang taman, suasananya berubah total. Patung – patung berwarna cerah berdiri di mana – mana. Harimau raksasa, dewa-dewi, tokoh legenda, hewan mitologi, semuanya seolah menyambut masuk ke dunia lain.
Lensa Jalan berjalan melewati lorong berliku, dan setiap sudut punya cerita. Ada patung manusia berkepala hewan, ada adegan cerita klasik Tiongkok, sampai penggambaran Ten Courts of Hell, bagian paling terkenal sekaligus bikin bulu kuduk merinding.
Saat memasuki bangunannya, udara mendadak terasa lebih dingin. Di dalamnya, ada diorama pengadilan akhirat lengkap dengan hukuman yang digambarkan secara detail. Pengunjung lain berdiri nampak terdiam, mereka antara takut, kagum, dan penasaran. Rasanya seperti membaca kitab moral versi visual yang sangat langsung.
Di luar, suasana kembali cerah. Angin berhembus, pepohonan rimbun, dan suara burung kecil terdengar. Kontras dengan bagian horor tadi, tapi itulah Haw Par Villa. Campuran unik antara taman budaya, museum moralitas, dan dunia fantasi.
Apa yang Membuat Haw Par Villa Begitu Unik?
- Dibangun oleh pencipta Tiger Balm pada tahun 1937.
- Berisi lebih dari 1.000 patung dan 150 diorama.
- Menampilkan legenda, filosofi, dan mitologi Tiongkok secara visual.
- Memadukan unsur moral, budaya, edukasi, dan sedikit nuansa horor.
- Salah satu tempat paling anti-mainstream di Singapura.
Mengunjungi Haw Par Villa terasa seperti perjalanan ke dalam buku mitologi yang hidup. Setiap langkah membawa kejutan, setiap patung punya cerita, dan setiap sudut menawarkan pengalaman yang gak akan kamu temukan di tempat lain di Singapura.
FAQ
Q: Apakah benar denda di Singapura sangat mahal?
A: Benar, denda di Singapura relatif tinggi, dan penegakan hukumnya sangat ketat. Ini bukan mitos tourist trap. Aturan seperti denda membuang sampah sembarangan (littering), merokok di tempat umum, atau makan/minum di MRT diberlakukan secara serius.
Q: Apa itu COE (Certificate of Entitlement)?
A: COE adalah hak kepemilikan kendaraan di Singapura selama 10 tahun, yang harus dilelang dan harganya bisa sangat mahal, bahkan melebihi harga mobil itu sendiri. Ini adalah mekanisme unik Singapura untuk mengontrol jumlah kendaraan dan mengurangi kemacetan.
Q: Bagaimana cara terbaik untuk merasakan keunikan lokal, selain tempat wisata utama?
A: Jelajahi Hawker Center dan Neighbourhood Mall di luar pusat kota. Kunjungi Tiong Bahru, Ang Mo Kio, atau Toa Payoh. Di sanalah kamu akan melihat interaksi Singlish asli, harga makanan lokal, dan kehidupan HDB yang autentik.
Jadi setelah tau 10 hal unik di Singapura, kamu masih tertarik kesana? Kalau Lensa Jalan sih akan selalu balik lagi ya! Karena Singapura senyaman itu dan cocok untuk segala tema liburan, mulai dari backpacker, family trip, sampai liburan romantis bersama pasangan.
Kamu punya informasi lain tentang Singapura yang unik? Kasih tau Lensa Jalan di kolom komentar ya!
