1.820.3345.33 Contact@TravelTourWP.com

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login
wisata gereja di singapura

Sebelumnya Lensa Jalan sudah pernah rekomendasikan Masjid di Singapura untuk memenuhi ibadahmu, sekaligus wisata religi buat kamu yang berhalangan atau non Muslim. 

Kali ini, Lensa Jalan mau membawa kamu menelusuri Gereja estetik di Singapura yang vibenya eropa sampai modern khas Singapura. Kamu bisa ikut beribadah disini, atau hanya sekedar berfoto dan mengagumi keindahan arsitekturnya.

Menurut Singapore Department of Statistics (SingStat), statistik agama penduduk menunjukkan bahwa Kristen (termasuk gereja Katolik dan Protestan) adalah salah satu kelompok agama di Singapura. Jadi jangan heran walaupun bukan mayoritas, kamu masih bisa dengan mudah menjumpai Gereja di Singapura.

Dan, kalau kamu bukan dari umat Kristiani, tenang saja, Gereja ini terbuka untuk umum jika ada kegiatan ibadah. Oh ya, ketiganya juga dijamin kids friendly.

3 Gereja Estetik yang Wajib Kamu Kunjungi

Berikut 3 gereja dengan arsitektur dan atmosfir keren yang pernah Lensa Jalan datangi, dan dijamin keren!

1. St Andrew’s Cathedral

Pertama mari kita melangkah ke Gereja yang arsitekturnya khas Gereja Katolik Eropa, St Andrew’s Cathedral. Katedral Anglikan terbesar di Singapura dan sebuah monumen nasional yang benar-benar memukau. Kamu bisa merasakan kedamaian di tengah kota yang super sibuk.

Saat kamu melangkahkan kaki ke halaman Gereja, kamu akan merasakan aura damai langsung menyambut. Fasad yang berwarna putih bersih itu membuatmu ingin segera membuka kamera dan mengabadikannya dalam sebuah foto.

Saat masuk ke Gereja lewat pintu utama, segera angkat pandanganmu ke atas. Langit-langit yang tinggi memberikan kesan yang sangat sakral. Tapi, yang paling akan memikat Lensa Jalan  adalah Jendela Kaca Patri (Stained Glass) di bagian apse. Sinar matahari yang menembus kaca berwarna-warni itu menciptakan pantulan cahaya yang indah, seolah-olah lantai katedral sedang menari dalam warna-warna pelangi. Sungguh, itu adalah momen visual yang luar biasa dan bisa membuat merenung sejenak.

Konon, tiga jendela kaca patri ini didedikasikan untuk tiga tokoh kolonial terkemuka bernama Sir Stamford Raffles, John Crawfurd, dan Mayor Jenderal William Butterworth, yang menunjukkan perpaduan antara sejarah kolonial dan spiritualitas.

Lensa Jalan sendiri merasa sangat khidmat saat duduk di salah satu bangku kayu. Jika kamu datang saat ada kebaktian, suara organ dan paduan suara akan memenuhi ruangan, memberikan pengalaman spiritual yang otentik. Kamu akan merasa seolah-olah segala kesibukan di luar sana hilang sementara waktu.

Kamu mungkin tidak menduga, bangunan seindah ini ternyata punya sejarah yang bisa membuat perasaanmu naik turun!

  • Gereja St Andrew’s pertama yang dibangun tahun 1830-an, harus dihancurkan karena dua kali disambar petir. 
  • Katedral yang kamu lihat hari ini mulai dibangun pada tahun 1856. Arsiteknya, Ronald MacPherson, merancangnya dengan gaya Neo Gotik yang terinspirasi dari Gereja di Inggris. Menariknya, katedral ini sebagian besar dibangun oleh pekerja narapidana dari India (Convict Labourers). Kisah ini adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah kolonialnya.
  • Selama Perang Dunia II, sebelum Singapura jatuh, katedral ini pernah difungsikan sebagai rumah sakit darurat untuk merawat korban perang. Katedral ini bukan hanya simbol iman, tetapi juga ketahanan dan kemanusiaan.

Buat kamu yang suka sejarah, coba cari informasi tentang Tur Berpemandu Gratis (Docent Tour). Tur ini biasanya dipimpin oleh sukarelawan katedral yang ramah. Kamu akan diajak berkeliling sambil diceritakan detail sejarah dan arsitektur yang mungkin kamu lewatkan jika berjalan sendiri. Tanyakan langsung di Cathedral Welcome Centre saat sampai di sana.

Jadwal Ibadah Gereja St Andrew’s

2. Church of the Blessed Sacrament

Kamu mencari destinasi wisata religi yang unik dan tidak biasa? Jangan lewatkan Church of the Blessed Sacrament (BSC) yang terletak di kawasan Queenstown Singapura. Gereja Katolik ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi merupakan ikon arsitektur Modernis yang menarik, dikenal karena desain atapnya yang sangat khas dan unik.

Saat pertama kali melihat Church of the Blessed Sacrament, kamu pasti akan langsung terpana oleh atapnya. Desain atapnya yang berlipat-lipat dan berbentuk seperti tenda membuatnya mendapat julukan “Gereja Tenda Biru”. Bentuk atap ini bukan tanpa makna, ia dirancang untuk melambangkan “Kemah Pertemuan” atau Tent of Meeting dalam Perjanjian Lama.

Saat melangkah ke dalam, Lensa Jalan merasakan suasana yang luas dan damai. Gereja ini memiliki tata ruang berbentuk salib (cruciform) yang ditopang oleh pilar beton sederhana. Cahaya alami masuk dengan indah melalui panel-panel kaca yang terintegrasi di lipatan atap, menerangi ruang utama (sanctuary) dengan lembut.

Kamu akan menemukan kedamaian sejati di sini. Dinding batu bata yang polos, langit-langit kayu, dan salib Celtic yang menghiasi dinding altar utama memberikan kesan yang religius banget namun mendalam. Tempat yang sempurna untuk duduk, berdoa, atau sekadar merenungkan keindahan arsitektur yang dirancang untuk mempertemukan iman dan komunitas.

Gereja ini baru saja dibuka kembali setelah renovasi besar dan selesai pada akhir tahun 2023. Walaupun telah sedikit dirombak, mereka memastikan elemen arsitektur khasnya tetap terjaga, diimbangi dengan fasilitasnya lebih modern dan ramah difabel.

Gereja ini memiliki ikatan erat dengan sejarah Singapura modern, khususnya kawasan perumahan publik pertama, Queenstown. Awalnya Gereja ini dibangun untuk melayani komunitas Katolik yang baru pindah ke daerah Queenstown, kawasan HDB (perumahan publik) pertama di Singapura, pada pertengahan tahun 1950an.

Keterbatasan dana membuat Gereja ini dibangun secara bertahap. Bagian pertamanya, Damien Hall, dibuka pada tahun 1963. Gereja utama kemudian diresmikan pada 8 Mei 1965. Pada tahun 2005, Church of the Blessed Sacrament diberikan Status Konservasi URA (Urban Redevelopment Authority), yang mengakui nilai sejarah dan arsitekturnya yang unik.

Jadwal Ibadah Gereja Church of the Blessed Sacrament

Church of the Blessed Sacrament adalah paroki Katolik yang sangat aktif dengan jadwal Misa yang beragam, bahkan menyediakan Misa dalam beberapa bahasa lain untuk komunitas multikulturalnya.

Jadwal misa bisa kamu cek di official website Church of the Blessed.

3. Armenian Church

Armenian Church (Gereja Armenia) adalah Gereja yang penuh sejarah dan memiliki arsitektur klasik di Singapura. Gereja kecil ini bukan sekadar tempat ibadah, ia adalah monumen hidup yang menyimpan kisah komunitas kecil namun berpengaruh di Negeri Singa.

Begitu kamu tiba di Armenian Church, yang terletak di Hill Street, kamu akan langsung merasakan perbedaan. Dibandingkan dengan gedung-gedung modern di sekitarnya, Gereja ini terasa seperti sebuah permata kecil yang terawat.

Fokus utamanya adalah arsitektur bergaya Neoklasik yang anggun. Kamu akan melihat fasad putih yang bersih dengan deretan kolom Yunani Dorik yang kokoh. Namun, yang paling menarik perhatian adalah atap kubah bundar yang khas, kini diatapi oleh sebuah lantern (menara kecil) dan Salib. Lingkungan Gereja dikelilingi oleh taman hijau yang rimbun dan dinding rendah, menciptakan suasana oasis ketenangan.

Saat masuk di dalam Gereja, kamu akan terkejut dengan kesederhanaan interiornya. Ruangan Gereja didesain secara sentralistik, berbeda dengan Gereja kebanyakan yang berbentuk salib memanjang. Ini adalah ciri khas desain Gereja Armenia yang terinspirasi dari Gereja Etchmiadzin di Armenia.

Meskipun kecil, ruangan ini terasa hangat dan damai. Kamu bisa melihat bangku-bangku kayu yang melingkari altar, lantai marmer, dan lukisan religius sederhana. Lensa Jalan sendiri merasakan kedamaian yang mendalam di sini. Sebuah tempat yang sempurna untuk kontemplasi, jauh dari hiruk pikuk Clarke Quay atau City Hall yang ramai.

Armenian Church memiliki arti sejarah yang sangat besar bagi Singapura. Gereja ini dibangun pada tahun 1835, 16 tahun setelah pendirian Singapura modern oleh Stamford Raffles, menjadikannya Gereja tertua di Singapura yang masih berdiri hingga kini. 

Didirikan oleh komunitas Armenia yang jumlahnya kecil (hanya sekitar 12 keluarga saat itu), tetapi sangat kaya dan berpengaruh dalam perdagangan dan kehidupan sipil awal Singapura. Tokoh-tokoh terkenal Armenia termasuk keluarga Sarkies (pendiri hotel The Raffles) dan Agnes Joaquim (penemu bunga Vanda Miss Joaquim, bunga nasional Singapura).

Di halaman gereja, kamu akan menemukan taman peringatan yang indah dan sejuk. Di sini, terdapat sebuah makam peringatan bagi Agnes Joaquim.

Jadwal Ibadah Armenian Church

Karena komunitas Armenia di Singapura kini sangat kecil, Gereja ini tidak menyelenggarakan ibadah reguler mingguan seperti gereja paroki besar lainnya. Saat ini, Gereja Armenia lebih sering berfungsi sebagai museum hidup dan tempat warisan.

Kebaktian dan liturgi diadakan hanya pada kesempatan-kesempatan khusus dan perayaan besar oleh komunitas Armenia setempat, misalnya Paskah Armenia atau Natal.

Armenian Church biasanya terbuka untuk umum dan wisatawan dari Selasa hingga Minggu, jam 10.00 hingga 18.00. Untuk lebih detailnya bisa cek di official website Armenian Church.

Kamu dapat berkeliling sendiri untuk mengamati arsitektur, membaca papan informasi sejarah, dan menikmati suasana taman. Tapi kalau kamu beruntung, terkadang ada tur sejarah yang diselenggarakan oleh badan warisan atau tur kota, yang memasukkan Armenian Church sebagai salah satu landmark utama. Mereka juga menyediakan virtual tour yang bisa kamu akses dari gadegtmu.

Armenian Church adalah permata arsitektur yang menawarkan jendela ke masa lalu Singapura. Pergi ke sini akan memberimu pemahaman yang lebih dalam tentang warisan multikultural yang membentuk negara ini.

FAQ 

Q1: Apakah masuk gereja-gereja ini gratis?
Ya, sebagian besar gereja yang disebut di atas adalah tempat ibadah dan terbuka untuk pengunjung tanpa tiket. Hanya beberapa yang mungkin meminta sumbangan sukarela atau memiliki bagian yang berbayar. Kalau kamu mau wisata yang gratis dan murah di Singapura, Gereja-Gereja ini bisa jadi pilihan yang “mahal”.

Q2: Apakah boleh mengambil foto di dalam gereja?
Umumnya boleh, tetapi ada baiknya kamu bertanya lebih dulu. Hindari menggunakan flash di masa ibadah, hormati jemaat yang berdoa, dan tanyakan izin jika ingin foto profesional atau menggunakan tripods.

Q3: Apakah ada aturan berpakaian?
Meski Singapura cukup santai, sebagai tempat ibadah sebaiknya kamu mengenakan pakaian yang sopan. Jangan memakai tank top, celana terlalu pendek, atau topi yang menutupi wajah secara berlebihan saat di dalam ruang ibadah.

Q4: Apakah perlu reservasi atau ikut tur?
Tidak untuk pengunjung umum yang hanya melihat arsitektur. Tapi jika kamu tertarik dengan tur heritage atau akses ke area tertentu (gereja dengan museum atau heritage centre), ada baiknya cek situs resmi gereja atau hubungi pihak gereja terlebih dulu.

Q5: Waktu kunjungan yang paling ideal?
Untuk foto terbaik dan suasana lebih tenang, datanglah pagi hari antara jam 09.00 – 11.00 atau sore hari sebelum matahari terbenam. Cahayanya bagus, dan pengunjung biasanya lebih sedikit.

Kesimpulan

Gereja – Gereja estetik di Singapura bukan hanya tempat ibadah, tapi mereka adalah titik persinggahan untuk melihat sisi lain Negara Singa ini. Semua Gereja punya keunikan dan sejarahnya masing-masing, menunjukan harmonisnya perbedaan agama di sini.

Kalau kamu berkunjung ke Singapura dan ingin selain foto di Merlion atau belanja di Orchard, coba sisihkan waktu untuk mengeksplorasi Gereja-Gereja ini. Ambil kamera, datang dengan hati terbuka, dan kamu akan pulang dengan pengalaman yang berbeda dan lebih “kaya”.

Kamu punya rekomendasi Gereja lainnya yang belum Lensa Jalan datangi? Coba rekomendasikan di kolom komen ya!

About the author

Dulunya suka travelling backpacker, sekrang suka liburan bersama keluarga

Leave a Reply

Proceed Booking