1.820.3345.33 Contact@TravelTourWP.com

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login
hidden gems di singapore

Liburan ke Singapura memang gak lengkap rasanya kalau belum ke lokasi wisata ikonik seperti Garden by The Bay, Marina Bay, dan Merlion Park. Gak jarang area seperti Chinatown, Bugis, dan Kampong Glam juga ramai dikunjungi demi mendapatkan “suasana” Singapura atau sekedar mencari oleh-oleh.

Tapi buat kamu yang sudah sering bolak-balik Singapura tentu merasa bosan kalau cuma berkeliling di area sana. Kamu pasti ingin cari tempat wisata yang beda dan anti mainstream.Oleh karena itu, kali ini Lensa Jalan mau kasih tau 7 lokasi wisata hidden gem yang ada di Negara Singa ini. 

Kalau kamu baru pertama kali ke Singapura dan ingin cari sesuatu yang beda, kamu juga bisa lihat rekomendasi Lensa Jalan ini ya!

7 Lokasi Wisata Hidden Gem ala Warga Lokal Singapura

1. Kampong Lorong Buangkok

Tersembunyi di kawasan pinggiran kota Singapura, Kampong Lorong Buangkok adalah kampung tradisional terakhir yang masih ada di daratan utama Singapura. Menurut National Library Board, kawasan ini dibuka pada tahun 1956 ketika Sng Teow Koon membeli lahan rawa di sana dan menyewakan petak-petak kepada keluarga yang ingin membangun rumah. 

Kini, meskipun dikelilingi oleh bangunan beton, flat HDB, dan jalan raya modern, kampung ini tetap mempertahankan suasana masa lampau. Rumah kayu beratap seng, jalan setapak sederhana, ayam berkeliaran bebas, benar-benar seperti kembali ke masa lalu atau main ke desa di Indonesia ya.

Saat Lensa Jalan melangkahkan kaki ke  pintu masuk Kampong Lorong Buangkok, atmosfernya langsung berbeda. Suara langkah kaki di jalan berbatu kecil, udara sedikit lebih sejuk karena banyak pohon serta tanaman hijau, dan pemandangan rumah kayu dengan atap seng yang mulai berkarat di tengah lingkungan urban yang sangat modern.

Saat berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong sempit, Lensa Jalan melihat anak kecil berlarian, ayam jantan yang berkotek di depan rumah, dan warga yang saling menyapa dengan ramah. Benar-benar nuansa khas perkampungan yang hangat dan damai.

Sambil berjalan, terasa sekali suasana perkampungannya. Salah satunya rasa kebersamaan yang mungkin jarang ditemui di daerah urban modern. Sangat sederhana tapi bikin hati hangat. Pintu rumah yang terbuka, cahaya lembut sinar matahari mengintip melalui celah daun, dan suara-suara dari alam yang menggantikan hiruk pikuk kota.

Menurut wikipedia lahan kampung ini awalnya rawa dan menjadi lokasi yang rawan banjir, hingga mendapatkan julukan “Selak Kain” yang berarti “mengangkat sarung” karena penduduk harus mengangkat sarung mereka saat melewati jalan tergenang.

Proyek riset oleh Singapore Institute of Technology (SIT) mencatat bahwa kampung ini menjadi mikro-kosmos perubahan sosial multiras dan multireligius Singapura dari era pra-kemerdekaan hingga sekarang. 

Itulah sebabnya walau Singapura terus mengalami kemajuan, kampung Lorong Buangkok tetap dipertahankan untuk meninggalkan kesan heritage di Negara Modern ini. Berbeda dari atraksi wisata besar Singapura yang penuh turis dan modernitas, kamu akan mendapatkan pengalaman “slow living” dan autentik, cocok buat kamu mencari sisi berbeda Singapura.

Oh ya, kamu bisa lihat VR Tournya di website Singapore Institute of Technology.

2. Little Guilin (Bukit Batok)

Kali ini Lensa Jalan mau ajak kamu ke spot wisata di Singapura yang lebih santai tapi tetap Instagramable. Coba deh mampir ke Little Guilin di kawasan Bukit Batok. 

Saat tiba di pintu masuk Bukit Batok Town Park pagi hari, udara masih agak sejuk dan suasana cukup tenang, jauh dari ramainya jalanan pusat kota. Setelah lima menit jalan kaki dari stasiun MRT Bukit Gombak MRT Station, kamu sudah bisa berada di area yang disebut Little Guilin.

Pertama yang Lensa Jalan lihat adalah sebuah danau yang permukaannya tenang. Di setiap sisinya menjulang formasi batu granit yang terlihat kasar tapi memukau. Warnanya abu kehitaman dengan corak natural, dan ada pepohonan yang mengelilinginya. Lensa Jalan merasa seperti berada di sisi lainnya Singapura.

Lensa Jalan berjalan menyusuri jalur setapak di tepi danau sambil berhenti beberapa kali untuk berfoto. Pemandangan bebatuan di air, pepohonan yang menjorok ke atas, dan langit biru terang di atasnya, sungguh membuat Lensa Jalan tercengang, mengingat di pikiran kami Singapura hanya ada gedung-gedung tinggi nan modern.

Ada beberapa ikan besar yang terlihat berenang di tepian, dan suara dedaunan yang bergesekan saat angin bertiup. Lensa Jalan memutuskan untuk duduk di salah satu batu besar yang sudah disediakan sebagai tempat duduk sambil menikmati alam dengan santai.

Sesuai dengan catatan National Parks Board, Bukit Batok Town Park dibangun di atas bekas tambang granit yang sudah gak aktif, yang kemudian terisi air hujan dan terbentuklah danau alami di lokasi tersebut.

Nama “Little Guilin” atau dalam bahasa Mandarin “Xiao Guilin” muncul karena keunikan formasi batu granit plus danau yang sangat mengingatkan pada kota Guilin di Tiongkok. Nama “Bukit Batok” sendiri punya asal-usul menarik. “bukit” berarti bukit, dan “batok” secara harfiah artinya batuk dalam bahasa Melayu. Konon karena suara ledakan atau aktivitas tambang di masa lalu yang membuat bukit ini “batuk”.

Coba datang kesini saat pagi atau menjelang sore, cahaya matahari yang pas membuat tempat ini semakin indah. Gunakan sepatu yang nyaman ya. Jangan memancing di area Little Guilin dan merusak formasi batu granitnya. Bawa botol minum karena disana jauh dari kios-kios.

3. Yunnan Garden (NTU)

Spot tersembunyi dan keren di Singapura selanjutnya adalah Yunnan Garden, yang terletak di  kampus NTU. Tempatnya memang agak tersembunyi, tapi disitu daya tariknya. Kamu bisa menikmati pemandangan indah dengan tenang. 

Saat sampai di Yunnan Garden, suasananya langsung bikin adem. Dari pintu masuk kampus NTU di Jurong Barat, Lensa Jalan melewati jalur kampus lalu tiba di pintu gerbang taman yang dipenuhi pohon-besar dan papan petunjuk yang mengajak ke “Heritage Trails”. Udara pagi agak lembab tapi banyak cahaya matahari yang menyelinap di antara daun-daun.

Lensa Jalan mulai menjelajahi Yunnan Garden dengan jalan pelan di boardwalk kayu yang membentang di tepi danau yang tenang. Suara gemericik air yang jatuh lewat air terjun buatan setinggi 5,6 meter benar-benar memanjakan telinga. Disamping itu, mata kamu akan diberikan pemandangan indah juga berupa pantulan cahaya dari air, ke arah pepohonan dan langit.

Ada paviliun bergaya Tionghoa berdiri tenang di antara pepohonan. Lensa Jalan berhenti sebentar di salah satu bangku, dan minum air sambil melihat ikan-ikan kecil berenang pelan di tepi. Suasananya sangat kontras dengan keramaian kota Singapura pada umumnya. Hanya terdengar suara burung, dedaunan, dan sesekali langkah kaki orang lewat.

Lensa Jalan lanjut ke jalur kecil menuju area “mini-garden themed” yang punya koleksi pohon serta tanaman lokal yang beragam. Ada lebih dari 80 spesies pohon dan berbagai tanaman lain. Saat berada di situ, kamu akan merasa seperti berada di oasis tersembunyi.

Sebelum pulang, Lensa Jalan duduk di atas batu besar dekat tepi danau sambil menikmati cahaya matahari sore yang mulai meredup dan memantul di permukaan air. Cocok banget buat kamu yang isi medsosnya pemandangan estetik. 

Yunnan Garden dibangun pada era tahun 1950an sebagai taman rekreasi untuk para mahasiswa dan warga di kampus awal Nanyang University (NanTah) yang kini menjadi bagian dari NTU.

Taman ini punya lebih dari 1.000 pohon baru, yang memiliki lebih dari 80 spesies, sebagai bagian dari upaya memperkaya keanekaragaman hayati dan menjaga warisan alamkultur dalam area kampus.

4. Pulau Ubin

Pulau Ubin secara harfiah berarti “Pulau Batu Jubin/Granite Island” dalam Bahasa Melayu nama ini muncul karena banyaknya tambang granit di sana yang dulunya dipakai untuk konstruksi Singapura.

Dari namanya kamu pasti tau pemandangan disini kurang lebih sama dengan di Little Guilin. Bedanya, Pulau Ubin punya kampung khas Melayu seperti di Kampong Lorong Buangkok yang masih ditinggali. Jadi saat kesini, kamu berasa seperti masuk di kampung nelayan yang bersih dan menyegarkan mata.

Untuk kesana, Lensa Jalan  naik bumboat dari Changi Point Ferry Terminal menuju Pulau Ubin. perjalanannya singkat, sekitar 10 menit diiringi dengan suara riak air dan angin sepoi-sepoi. Saat turun di dermaga kecil, Lensa Jalan  langsung merasakan suasana yang jauh berbeda. Jalan setapak, sepeda yang bisa disewa, rumah kampung berdesakan dengan pepohonan, dan suara alam yang lebih dominan daripada klakson mobil.

Kamu bisa menyewa sepeda dan menjelajah jalur di sekitar bekas tambang granit. Ada juga danau jernih berwarna biru kehijauan yang muncul di tengah bekas kegiatan tambang, kontras sekali dengan kesibukan kota. 

Lensa Jalan melanjutkan perjalanan menuju ke bagian kampung kecil. Ada rumah kayu sederhana, warung-warung lokal, suasana autentik kampung sangat terasa. Lensa Jalan kemudian berkeliling ke kawasan mangrove dan melihat papan penunjuk ke Chek Jawa. Tapi sayang sekali kami tidak sempat masuk ke sana karena waktunya mepet.

Sebelum pulang, Lensa Jalan menikmati makan siang sederhana di warung pinggir jalan kampung. Kami memesan ikan bakar, nasi dan teh manis, lalu makan sambil menikmati angin laut dermaga. Walau singkat, tapi berhasil membuat ingin kembali kesini.

Tips dari Lensa Jalan buat kau yang mau ke Pulau Ubin:

  • Berangkat pagi dari Changi Point Jetty supaya banyak waktu jelajah dan suasana masih sejuk.
  • Sewa sepeda di Ubin Town dan pilih jalur santai agar bisa menikmati pemandangan tanpa terburu-buru.
  • Jangan lupa bawa air minum, sun-block, dan mungkin jas hujan ringan, karena cuaca bisa berubah.
  • Buang sampah pada tempatnya, jangan rusak alam, dan hargai komunitas lokal.
  • Jika ingin eksplore ke Chek Jawa atau bagian pulau lebih jauh, sediakan waktu lebih lama atau rencanakan sebagai half day trip.

5. Berlayer Creek Boardwalk

Kawasan tersembunyi dan terasa alami ditengah kota modern Singapura selanjutnya adalah Berlayer Creek Boardwalk di kawasan Labrador Nature Reserve.

Untuk kesini, Lensa Jalan turun di  MRT Labrador Park MRT Station. Keluar dari stasiun langsung terasa perubahan suasana. Dari keramaian kota ke vibes santai di antara pepohonan mangrove. Lensa Jalan mulai menyusuri papan kayu panjang yang melintasi area mangrove dan muara sungai kecil. Jalurnya nyaman, rata, dan cukup teduh.

Selama berjalan di Berlayer Creek Boardwalk, langkah kaki selalu berhenti beberapa kali. Ini karena banyak pemandangan yang luar biasa. Salah satu yang menarik pandangan adalah akar-akar bakau yang mencengkeram tanah lumpur, ke air yang tenang di bawah, hingga ke laut lepas di kejauhan. 

Ada juga burung-burung kecil yang lincah, sepasang kingfisher yang mengepak di tepian, dan monitor lizard yang dengan santai menyusuri pinggiran. Suara kicauan, gesekan daun, dan angin laut jadi latar yang berbeda dari suasana perkotaan.

Berjalan semakin jauh ke arah muara dan kamu akan melihat area yang lebih terbuka. Langit biru, suara burung laut, hembusan angin dari laut. Lensa Jalan duduk di salah satu bangku kayu yang disediakan, sambil memandang jauh ke arah laut dan berpikir betapa damainya sudut kecil Singapura ini. 

Berlayer Creek terdiri dari 5,61 hektar area mangrove. Ini termasuk salah satu dari sedikit mangrove yang masih tersisa di bagian selatan daratan Singapura. Jalur boardwalknya mencapai sekitar 960 meter yang melintasi area mangrove hingga ke muara laut.

Tercatat ada 14 spesies tumbuhan mangrove, 60 jenis burung, dan 19 spesies ikan di area ini. Jalur ini merupakan bagian dari rute Labrador Nature & Coastal Walk sepanjang 2,1 km yang menghubungkan berbagai habitat (mangrove, muara, tebing batu, hutan ringan).

6. Woodlands Galaxy CC Observatory

Kalau dari tadi hidden gems nya ke kawasan alam dan berhubungan dengan air, kali ini Lensa Jalan mau membagikan lokasi wisata gratis dan murah meriah yang berkaitan dengan “masa depan” dan teknologi. Namanya adalah Woodlands Galaxy CC Observatory.

Setelah sempat ditutup selama pandemi, observatorium ini kembali dibuka untuk publik pada 7 Oktober 2022, dan tersedia sesi stargazing setiap hari Jumat malam. Biaya masuknya sangat terjangkau, hanya sekitar SGD 1 per orang untuk sesi stargazing.

Fasilitas teleskop yang digunakan adalah jenis “30 cm reflector” yang memungkinkan kamu awam melihat benda langit dengan cukup jelas. Menurut warga lokal yang Lensa Jalan ajak berbincang,observatorium ini termasuk “hidden gem” karena berada di pusat komunitas (CC) alih-alih lokasi wisata besar, jadi suasananya lebih intim dan santai.

Sumber: https://mothership.sg/ 

Lensa Jalan ke Woodlands Galaxy Community Club pada waktu malam hari. Lokasinya ada di 31 Woodlands Avenue 6, cuma beberapa menit jalan kaki dari stasiun MRT Admiralty MRT. Suasana sudah mulai temaram, lampu jalan mulai menyala, dan ada sedikit angin malam yang melewati kulit.

Lensa Jalan naik ke lantai atas, ke bagian observatorium yang berdome bulat. Ada tangga spiral yang cukup instagramable. Saat berdiri di atas rooftop dan mengarahkan mata ke langit, wow pemandangannya benar-benar merasa keluar dari “ritme kota” dan masuk ke ruang “langit”.

Dengan teleskop besar yang boleh dipakai untuk umum, Lensa Jalan sempat mengintip bulan yang seperti “melebar” di garis cakrawala, dan bahkan objek lain seperti Jupiter atau Saturnus. Untungnya malam ini cuacanya cerah, jadi Lensa Jalan bisa melihat keindahan angkasa ini.

Lensa Jalan langsung mengabadikan tempat ini dengan kamera. Mulai dari dome observatorium, tangga spiral, dan sudut langit yang bersih. Rasanya seperti hideout malam untuk pencinta langit di tengah kota Singapura yang biasanya gak pernah henti.

Supaya lebih mendapatkan pengalaman gak terlupakan, datanglah saat malam hari dan pada hari Jumat, supaya bisa ikut sesi stargazing resmi. Pastikan cek cuaca karena observatorium hanya buka kalau cuaca cukup baik.

Bawa jaket tipis atau baju hangat karena rooftop malam bisa cukup dingin dan berangin. Usahakan datang lebih awal untuk mendapatkan tempat bagus dan mungkin dapat sesi singkat petugas menjelaskan objek langit yang dilihat.

7. Railway Corridor (The Green Line)

Mengukir pengalaman baru, berjalan di jalur hijau yang punya sejarah yang berkaitan erat dengan Singapura, kamu bisa kunjungi Railway Corridor (The Green Line). 

Rail Corridor punya panjang sekitar 24 km, membentang dari utara ke selatan Singapura, mengikuti bekas jalur kereta yang dulunya dioperasikan oleh Keretapi Tanah Melayu (KTM) yang menghubungkan Singapura dengan Semenanjung Malaysia.

Menurut National Parks Board (NParks), Rail Corridor bukan hanya jalur pejalan kaki, tetapi juga koridor ekologis yang memungkinkan pergerakan satwa liar antar ruang hijau utama di Singapura.

Selain unsur alam, heritage kereta api juga dipertahankan. Seperti stasiun lama, rel, pondasi, dan jembatan-jembatan yang menjadi bagian dari jejak sejarah transportasi negara.

Lensa Jalan ke Railway Corridor saat pagi hari lewat stasiun King Albert Park. Turun dari MRT lanjut berjalan menuju area tengah Rail Corridor. Jalan setapak yang dulu rel kereta api membawa masuk ke jalur hijau yang agak panjang dan teduh. Sepanjang jalan banyak pepohonan, reruntuhan rel lama, dan tanda-tanda sejarah yang tersisa.

Lensa Jalan melihat bekas bangunan kecil dan pondasi batu yang dulunya mungkin bagian dari jalur kereta. Angin sepoi, suara daun bergesek, dan udara yang terasa lebih alami dibanding kawasan kota sangat terasa. Lensa Jalan berhenti di dekat Bukit Timah Railway Station yang sekarang jadi warisan, dan mengamati papan penjelas yang menceritakan kisah rel kereta yang dulu menghubungkan Singapura ke Malaysia. 

Lanjut ke jalur yang agak terbuka,  Lensa Jalan melihat rumput tinggi di sisi rel, dan beberapa burung yang berkicau. Sangat kontras dengan suara kendaraan dan klakson yang biasa terdengar di tengah kota. 

Tempat ini cocok banget buat kamu yang suka liburan bertema sejarah dan budaya. Setiap sudutnya punya cerita tersendiri yang membisu dimakan waktu, namun tetap dipertahankan untuk mengingat berdirinya Singapura.

FAQ 


Q1. Apakah tempat-tempat ini benar “tersembunyi” dan cocok untuk turis pertama kali?
Ya, sebagian besar masih sedikit dikunjungi turis, jadi pengalaman kamu lebih autentik. Namun tetap mudah diakses dan aman.

Q2. Apakah perlu pemandu lokal untuk tempat ini?
Gak wajib, tapi jika kamu ingin cerita latar dan konteks budaya, pemandu atau tur lokal bisa jadi pilihan tepat.

Q3. Apakah semua tempat cocok untuk keluarga/anak-anak?
Ya, semua tempat kids friendly. Namun kembali lagi ke ketertarikan pribadi masing-masing.
Q4. Bagaimana cara mencapai lokasi dari pusat kota Singapura?
Kebanyakan mudah via MRT, bus atau feri. Pastikan cek rute dan waktu operasional.
Q5. Apakah ada biaya masuk?
Banyak yang gratis, namun untuk observatory tertentu mungkin ada biaya kecil atau reservasi. 

Singapura bukan hanya tentang gedung pencakar langit dan kawasan turis. Dengan menjelajah 7 hidden gem di atas, kamu bisa merasakan sisi yang lebih lokal, lebih otentik, dan lebih tenang.

Kamu lebih suka yang mana nih, hidden gems atau tempat yang viral? Komen dibawah ya.

About the author

Dulunya suka travelling backpacker, sekrang suka liburan bersama keluarga

Leave a Reply

Proceed Booking