Bagi traveler muslim, mencari makanan halal di Singapura bukan lagi tantangan, melainkan petualangan rasa yang menakjubkan. Negara kecil yang modern ini menyimpan begitu banyak kejutan di setiap sudutnya. Dari aroma sate malam yang memancing selera di Lau Pa Sat, hingga murtabak legendaris Zam Zam yang bikin rindu setiap kali diingat, semua terasa seperti perjalanan kuliner yang menyatukan budaya Melayu, India, dan Arab dalam satu gigitan.
Bagi Lensa Jalan, setiap perjalanan bukan sekadar mencari tempat makan, tetapi juga tentang menemukan suasana, aroma, dan cerita di balik setiap sajian. Kali ini, mari ikut menjelajahi pengalaman pribadi yang penuh warna, dari hawker center hingga café trendi yang semuanya halal dan menggoda.
1. Lau Pa Sat: Sate Malam yang Bikin Lidah dan Kamera Sibuk
Begitu mendarat di Changi, malam pertama Lensa Jalan langsung menuju Lau Pa Sat, hawker center legendaris di tengah kota yang berubah total saat malam tiba. Begitu matahari terbenam, jalanan di depannya ditutup untuk kendaraan, berubah menjadi deretan pedagang sate yang sibuk membolak-balik tusukan daging di atas bara api.
Udara malam terasa hangat oleh aroma manis kacang dan serai. Lampu-lampu kuning menggantung di atas kepala, menciptakan suasana romantis yang bikin siapa pun ingin berlama-lama duduk menikmati suasana.
Lensa Jalan memesan sate ayam dan sapi halal dari Stall No. 8. Dagingnya empuk, bumbunya gurih-manis, dan sambalnya punya rasa pedas lembut yang menggoda. Setiap gigitan terasa seperti perpaduan antara tradisi dan cita rasa modern. Dari tempat duduknya, Lensa Jalan memperhatikan keramaian yang hangat, turis, pekerja kantor, hingga warga lokal yang sama-sama tenggelam dalam aroma dan rasa.
Hidden tips: datang sekitar pukul 7 malam saat jalan baru ditutup dan suasananya masih santai. Duduk di bagian pinggir dekat tiang lampu, spot terbaik untuk menikmati sate sambil memotret suasana malam Singapura yang fotogenik.
2. Zam Zam Restaurant: Murtabak yang Pantas Dapat Penghargaan Nasional

Sumber: Singapore Zam Zam | TasteAtlas | Recommended authentic restaurants
Pagi berikutnya, Lensa Jalan beranjak ke Zam Zam Restaurant, salah satu ikon kuliner halal Singapura yang berdiri tepat di seberang Masjid Sultan di kawasan Kampong Glam. Begitu masuk, aroma kari, daging, dan bawang bombai langsung memenuhi ruangan, tanda bahwa sesuatu yang lezat sedang dimasak di dapur.
Lensa Jalan memesan dua menu andalan: murtabak daging sapi dan nasi briyani kambing. Murtabaknya renyah di luar, lembut di dalam, dengan isian daging cincang yang gurih dan juicy. Sementara briyaninya begitu harum rempah, dengan nasi basmati panjang dan potongan kambing empuk yang mudah disobek hanya dengan sendok.
Duduk di lantai dua, Lensa Jalan menikmati teh tarik sambil memandangi kubah emas Masjid Sultan. Momen itu terasa magis, seolah waktu melambat di tengah paduan sejarah, aroma kari, dan kehangatan kota.
Hidden tips: kalau datang jam makan siang, langsung naik ke lantai dua. Biasanya lebih tenang, dan pemandangan dari jendela menghadap Masjid Sultan benar-benar cantik untuk diabadikan.
3. Bugis Street: Nasi Lemak Murah Tapi Rasa Sultan
Siang hari, Lensa Jalan menjelajah ke Bugis Street, kawasan belanja paling hidup di Singapura. Di antara kios pakaian dan cendera mata, ada satu stall kecil bertuliskan “Halal Nasi Lemak $4 only”.
Dari luar mungkin tampak biasa, tapi begitu suapan pertama masuk ke mulut, Lensa Jalan tahu ini bukan nasi lemak sembarangan. Nasinya wangi daun pandan, sambalnya pedas manis pas di lidah, dan ayam gorengnya renyah sempurna. Duduk di kursi plastik sederhana di tengah hiruk-pikuk Bugis justru menambah sensasi lokal yang autentik, di sinilah makanan halal terasa paling hidup.
Hidden tips: di salah satu pojok Bugis, ada kedai kopi kecil yang menjual kopi tarik halal super legit. Tapi ingat, hanya buka pagi antara jam 8 sampai 11. Cocok banget untuk sarapan sebelum mulai berburu oleh-oleh.
4. Ice Cream Sandwich Halal di Orchard Road

Sore yang panas di Orchard Road tidak lengkap tanpa menikmati jajanan legendaris ini: ice cream sandwich halal dari gerobak warna-warni yang dijajakan para “uncle” Singapura.
Kali ini, Lensa Jalan memilih rasa durian, dibungkus roti pelangi klasik. Gigitan pertama langsung bikin senyum lebar: dingin, manis, lembut, dengan aroma durian yang kuat tapi nikmat. Duduk di trotoar sambil melihat lalu-lalang orang dengan tas belanjaan branded terasa seperti adegan film kehidupan kota.
Hidden tips: beli sekitar pukul 5 sore, saat sinar matahari golden hour memantul di jendela toko. Foto kamu dengan es krim di tangan bakal kelihatan dreamy banget di bawah pepohonan Orchard yang rindang.
5. Arab Street & Haji Lane: Rasa Timur Tengah dan Spot Instagramable
Hari terakhir, Lensa Jalan menghabiskan waktu di Arab Street dan Haji Lane, dua kawasan yang terkenal dengan mural warna-warni dan suasana artistik yang hidup. Di tengah deretan butik dan galeri, Lensa Jalan mampir ke I Am Café, restoran halal bergaya barat yang punya vibe muda dan santai.
Menu andalannya, beef burger halal dan mojito non-alkohol, jadi kombinasi sempurna di sore hari. Roti burgernya empuk, dagingnya juicy, dan minumannya segar banget. Dari meja outdoor, Lensa Jalan bisa melihat wisatawan yang sibuk berfoto dan anak muda yang duduk santai menikmati sore.
Hidden tips: datang sekitar jam 4 sore saat cahaya masih lembut dan belum terlalu ramai. Waktu ideal untuk menikmati suasana sekaligus mendapatkan hasil foto terbaik.
Tips Profesional dari Traveler Muslim
Sebagai seseorang yang sering traveling dan doyan makan, Lensa Jalan sudah terbiasa menjelajahi kota asing dengan perut lapar dan semangat mencari cita rasa baru, tapi tetap harus halal. Setelah beberapa kali ke Singapura, Lensa Jalan sadar ada beberapa trik yang bisa bikin petualangan kuliner halal kamu jauh lebih mudah dan menyenangkan.
- Gunakan aplikasi HalalTrip atau MUIS Halal Certified.
Dua aplikasi ini seperti kompas halal di Singapura. Dengan satu klik, kamu bisa tahu restoran halal terdekat, rating-nya, bahkan menu populer dari pengunjung lain. Lensa Jalan sendiri pernah nemu kedai briyani super enak di pojok Little India cuma gara-gara buka HalalTrip lima menit sebelum makan siang! - Jangan ragu tanya langsung.
Orang Singapura umumnya ramah dan terbuka, jadi jangan malu bertanya. Banyak restoran di sana sebenarnya punya menu halal tapi tidak selalu menampilkan label besar di depan. Lensa Jalan pernah tanya ke barista di kafe kecil di Arab Street, dan ternyata mereka pakai bahan 100% halal walau tidak ditulis di papan menu. Kadang, senyum dan sapaan sopan bisa membuka pintu rasa yang tak terduga. - Selalu bawa uang tunai.
Walau Singapura dikenal modern, tidak semua tempat menerima kartu atau e-payment. Beberapa hawker center, terutama yang lebih tua seperti Maxwell atau Tekka, masih mengandalkan transaksi tunai. Lensa Jalan pernah batal beli nasi lemak enak gara-gara lupa ambil uang di ATM, jadi sekarang Lensa Jalan selalu simpan sedikit cash di saku cadangan. - Coba makan di hawker center kecil.
Mungkin banyak yang tergoda restoran mewah di Orchard, tapi percayalah, rasa paling autentik justru tersembunyi di hawker kecil di pinggir jalan. Di sanalah kamu bisa makan seperti warga lokal: ramai, sederhana, tapi penuh kehangatan. Dan bonusnya, harga makanan biasanya jauh lebih murah, bisa dapat seporsi penuh dengan harga setengah dari restoran turis. - Nikmati suasananya, bukan cuma makanannya.
Setiap kali Lensa Jalan makan di tempat baru, Lensa Jalan selalu berusaha “berhenti sebentar”, meletakkan ponsel, menatap sekitar, dan menikmati atmosfernya. Lihat cara orang lokal makan, dengar suara panci yang beradu, atau hirup aroma bumbu dari dapur terbuka. Itu semua bagian dari pengalaman yang bikin traveling lebih bermakna. Kadang justru bukan rasanya yang paling Lensa Jalan ingat, tapi suasana ketika menikmatinya.
Singapura bukan cuma soal Merlion atau Marina Bay Sands, tapi juga tentang sate malam di Lau Pa Sat, murtabak panas di Zam Zam, dan kopi tarik pagi di Bugis. Di setiap sudutnya, kamu bisa menemukan cita rasa dari budaya Melayu, India, dan Arab yang menyatu dalam satu piring. Kalau kamu muslim dan suka wisata kuliner, Singapura adalah tempat yang akan membuat perut kenyang dan hati senang.
Karena di sini, setiap gigitan adalah perjalanan, dan setiap perjalanan, selalu berakhir dengan rasa yang tak terlupakan.
