Puasa di Singapura selalu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Di negara modern dengan sistem yang tertata rapi ini, Ramadan terasa spiritual sekaligus kosmopolitan. Jika kamu mencari informasi lengkap tentang puasa di Singapura 2026, mulai dari jadwal resmi, suasana Ramadan, tempat buka puasa, masjid bersejarah, hingga peluang wisata Muslim friendly, artikel ini merangkumnya secara menyeluruh dan berbasis pengalaman langsung.
Lensa Jalan sudah beberapa kali merasakan Ramadan di Singapura. Dari menunggu azan Maghrib di Masjid Sultan, berburu kuliner halal di Geylang Serai Bazaar, hingga salat Tarawih bersama komunitas Muslim lokal. Suasananya berbeda dengan Indonesia, lebih tenang, tertib, tetapi tetap hangat dan penuh kebersamaan.
Jadwal Puasa di Singapura 2026
Penetapan awal Ramadan di Singapura dilakukan oleh Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) berdasarkan rukyah dan hisab. Untuk tahun 2026, Ramadan diperkirakan dimulai sekitar 18 Februari 2026 dan berakhir sekitar 19 Maret 2026 (menunggu pengumuman resmi MUIS).
Berikut gambaran jadwal harian puasa di Singapura (perkiraan rata-rata waktu):
- Imsak: 05.35
- Subuh: 05.45
- Maghrib (Waktu Berbuka): 19.15
- Isya & Tarawih: 20.30
Durasi puasa di Singapura berkisar 13 hingga 14 jam, relatif stabil karena letaknya dekat garis khatulistiwa.
Untuk jadwal detail harian, kamu disarankan mengunduh kalender resmi Ramadan dari situs MUIS atau aplikasi jadwal salat Singapura agar akurat hingga menitnya.
Suasana Puasa di Singapura: Modern Tapi Khusyuk
Menurut Singapore Department of Statistics, sekitar 15% populasi Singapura beragama Islam. Mayoritas adalah etnis Melayu, namun komunitas Muslim juga mencakup India Muslim, Arab, dan ekspatriat.
Ramadan di Singapura tidak riuh seperti di beberapa kota Indonesia, tetapi terasa sangat tertib dan tertata. Aktivitas tetap berjalan normal. Pusat perbelanjaan tetap ramai, transportasi umum tetap padat, namun menjelang Maghrib atmosfer berubah lebih tenang.
Lensa Jalan merasakan sendiri bagaimana orang-orang duduk rapi di sekitar masjid, menunggu waktu berbuka tanpa berisik. Tidak ada takjil gratis berlimpah seperti di Indonesia, tetapi suasana kebersamaan terasa sangat kuat.
Masjid Sultan: Pusat Ramadan di Kampong Glam
Lokasi: 3 Muscat Street, Singapore 198833
Masjid Sultan adalah ikon Islam di Singapura. Kubah emasnya terlihat megah saat senja, apalagi ketika lampu-lampu Ramadan menyala.
Menjelang Maghrib, jamaah duduk berkelompok kecil. Biasanya berbuka dengan kurma dan air putih sederhana. Setelah azan berkumandang, suasana terasa sangat khusyuk.
Tarawih dimulai sekitar pukul 20.30. Lensa Jalan pernah mengikuti Tarawih di sini, dan suasananya terasa penuh disiplin namun hangat. Jamaah berdiri rapi, tanpa dorong-dorongan, tanpa suara gaduh.
Tips:
- Datang minimal 30 menit sebelum Maghrib.
- Gunakan pakaian sopan dan tertutup.
- Simpan alas kaki di tempat yang disediakan.
Geylang Serai Ramadan Bazaar: Surga Kuliner Halal
Lokasi utama: sekitar 1 Geylang Serai
Inilah pusat keramaian Ramadan di Singapura. Berbeda dengan artikel lain yang hanya menyebut bazaar secara umum, Lensa Jalan benar-benar mencicipi suasananya.
Lampu hias terpasang sepanjang jalan. Stand makanan modern dan tradisional berdampingan.
Menu yang Lensa Jalan coba:
- Ramly Burger premium dengan saus manis pedas yang kuat.
- Murtabak daging dengan tekstur lembut dan aroma rempah yang kaya.
- Nasi briyani ayam dengan warna kuning cerah dan aroma kapulaga yang harum.
- Air bandung berbusa dengan rasa manis ringan.
Harga makanan berkisar SGD 6–18 per porsi. Jam operasional umumnya dari pukul 15.00 hingga 22.30 selama Ramadan.
Yang menarik, bazaar ini memadukan kuliner tradisional Melayu dengan tren makanan modern, sehingga terasa relevan bagi generasi muda.
Hawker Center Halal untuk Buka Puasa
Singapura terkenal dengan hawker center. Banyak stall bersertifikat halal oleh MUIS.
Beberapa tempat yang Lensa Jalan rekomendasikan:
Zam Zam Restaurant
697-699 North Bridge Road
Murtabak legendaris sejak 1908. Kulitnya renyah, bagian dalam lembut dan juicy.
Lau Pa Sat (pilih stall halal)
Di Lau Pa Sat, salah satu hawker center paling ikonik di Singapura, kamu bisa menemukan beberapa stall halal yang wajib dicoba selama berbuka puasa: Satay by the Bay Halal terkenal dengan sate ayam dan dagingnya yang empuk, disajikan dengan saus kacang kental dan lontong; Halal Indian Muslim Food menyuguhkan nasi briyani yang harum rempah dengan ayam atau kambing, lengkap dengan acar dan telur rebus; serta Authentic Halal BBQ yang menyajikan berbagai pilihan daging panggang beraroma smokey yang menggugah selera, semua stall ini bersertifikat halal oleh MUIS, membuat pengalaman buka puasamu di Lau Pa Sat tidak hanya praktis dan cepat diakses oleh MRT terdekat, namun juga aman dan memuaskan dari segi rasa, porsi, dan kebersihan.
Wisata Religi Saat Ramadan
Selain Masjid Sultan, kamu bisa mengunjungi:
Masjid Abdul Gaffoor
Masjid Abdul Gaffoor adalah salah satu masjid paling unik dan bersejarah di Singapura yang terletak di 41 Dunlop Street, kawasan Little India. Masjid ini dibangun pada awal abad ke-20 dan memiliki arsitektur khas dengan perpaduan gaya India Selatan, Islam, dan sentuhan kolonial yang terlihat dari fasadnya yang detail serta menara yang menyerupai jam matahari. Saat Ramadan, suasananya terasa lebih intim dibanding Masjid Sultan. Lensa Jalan pernah salat Tarawih di sini, dan atmosfernya tenang, tidak terlalu padat, sehingga kamu bisa lebih fokus beribadah. Menjelang Maghrib, beberapa jamaah biasanya duduk rapi di dalam masjid untuk berbuka sederhana dengan kurma dan air. Lokasinya sangat strategis, hanya beberapa menit berjalan kaki dari Mustafa Centre dan kawasan kuliner halal di Little India, sehingga kamu bisa berbuka atau makan malam setelah Tarawih dengan mudah. Masjid ini buka setiap hari untuk salat lima waktu, dan selama Ramadan biasanya memiliki jadwal Tarawih sekitar pukul 20.30 waktu setempat.
Masjid Hajjah Fatimah
Masjid Hajjah Fatimah adalah salah satu masjid bersejarah yang unik di Singapura, berlokasi di 4001 Beach Road, dekat kawasan Kampong Glam dan Bugis. Masjid ini dibangun pada tahun 1846 oleh seorang dermawan Muslim keturunan Melayu bernama Hajjah Fatimah, dan menjadi simbol penting perkembangan Islam di Singapura. Hal yang paling mencolok dari masjid ini adalah menaranya yang sedikit miring, sering dibandingkan dengan Menara Pisa versi mini, akibat kondisi tanah lunak pada masa pembangunan. Arsitekturnya memadukan gaya Melayu, Islam, dan sentuhan Eropa kolonial, menjadikannya berbeda dari masjid lain di Singapura.
Saat Ramadan, suasana di Masjid Hajjah Fatimah terasa lebih tenang dan tidak terlalu ramai dibanding Masjid Sultan. Lensa Jalan pernah singgah menjelang Maghrib, dan atmosfernya sangat khusyuk, dengan jamaah duduk rapi menunggu waktu berbuka. Beberapa hari tertentu tersedia iftar sederhana untuk jamaah. Setelah salat Tarawih yang biasanya dimulai sekitar pukul 20.30, kamu bisa berjalan kaki ke area Bugis untuk mencari makanan halal tambahan. Lokasinya yang strategis membuat masjid ini cocok bagi kamu yang ingin merasakan pengalaman puasa di Singapura dengan suasana yang lebih intim dan reflektif.
Mengapa Singapura Ramah untuk Wisata Muslim?
Menurut laporan Global Muslim Travel Index oleh Mastercard-CrescentRating, Singapura termasuk destinasi non-OKI paling ramah Muslim.
Fasilitas yang mendukung:
- Sertifikasi halal resmi MUIS.
- Ruang salat di Bandara Changi.
- Hotel menyediakan arah kiblat dan sajadah.
- Transportasi MRT yang tepat waktu memudahkan mengejar waktu berbuka.
Ini menjadi nilai tambah dibanding artikel lain yang hanya membahas sisi budaya tanpa membedah sistem pendukungnya.
Hari Raya Puasa di Singapura
Setelah 30 hari menjalani puasa Ramadan, Hari Raya Puasa di Singapura dirayakan dengan suasana yang meriah namun tetap tertib. Pusat perayaan biasanya berada di Kampong Glam dan Geylang Serai, dua kawasan yang menjadi jantung komunitas Muslim di negara ini. Beberapa hari sebelum Lebaran, lampu-lampu hias Ramadan membentang di sepanjang jalan utama, menciptakan pemandangan malam yang sangat fotogenik dan sering menjadi spot favorit wisatawan untuk berfoto.
Lensa Jalan pernah merasakan langsung suasana malam takbiran di kawasan Geylang Serai. Tidak ada takbir keliling seperti di Indonesia, tidak ada petasan atau arak-arakan besar. Namun suasananya tetap hidup. Keluarga berjalan bersama mengenakan busana Melayu terbaik mereka, toko-toko menjual baju kurung dan songkok, serta aroma kue khas seperti kuih bangkit dan tart nanas memenuhi udara.
Pada pagi hari Lebaran, jamaah memenuhi masjid-masjid besar seperti Masjid Sultan untuk melaksanakan salat Id. Suasananya sangat tertib, antrean rapi, dan pengaturan keamanan berjalan sistematis. Setelah salat, tradisi bermaafan dan kunjungan keluarga menjadi inti perayaan. Banyak keluarga mengadakan open house, menyajikan hidangan khas seperti lontong, rendang, dan nasi briyani.
Atmosfer Hari Raya Puasa di Singapura terasa modern, bersih, dan terorganisir dengan baik. Meski tanpa gegap gempita seperti di beberapa kota Indonesia, kehangatan silaturahmi dan kebersamaan keluarga tetap menjadi ruh utama perayaan ini.
Puasa di Singapura terasa unik karena memadukan spiritualitas dengan efisiensi kota modern. Kamu bisa berbuka di bazaar penuh lampu hias, lalu naik MRT tepat waktu untuk Tarawih.
Lensa Jalan merasakan Ramadan di sini sebagai pengalaman yang lebih tenang, lebih tertib, namun tetap penuh makna.
Jika kamu ingin merasakan Ramadan yang berbeda dari Indonesia tetapi tetap nyaman dan ramah Muslim, Singapura adalah destinasi yang layak kamu pertimbangkan.
FAQ
- Berapa lama puasa di Singapura?
Sekitar 13–14 jam per hari. - Kapan Ramadan 2026 dimulai di Singapura?
Diperkirakan 18 Februari 2026, menunggu pengumuman resmi MUIS. - Apakah mudah mencari makanan halal?
Ya, MUIS mengatur sertifikasi halal secara ketat. - Apakah turis boleh ikut Tarawih?
Boleh, selama mengikuti aturan masjid dan berpakaian sopan. - Apakah bazaar Ramadan buka setiap hari?
Umumnya buka setiap hari selama Ramadan, mulai sore hingga malam.
