1.820.3345.33 Contact@TravelTourWP.com

Login

Sign Up

After creating an account, you'll be able to track your payment status, track the confirmation and you can also rate the tour after you finished the tour.
Username*
Password*
Confirm Password*
First Name*
Last Name*
Birth Date*
Email*
Phone*
Country*
* Creating an account means you're okay with our Terms of Service and Privacy Statement.
Please agree to all the terms and conditions before proceeding to the next step

Already a member?

Login

Sejarah Chinatown dan Little India di Singapura: Asal usul Imigran, Fakta Unik, dan Perkembangannya

Suasana meriah Chinatown dan Little India di Singapura yang berdampingan, menampilkan lampion merah, bangunan tradisional, kuil, toko etnis, dan aktivitas masyarakat multikultural

Ketika kamu mencari kata kunci “Sejarah Chinatown dan Little India di Singapura”, kemungkinan besar kamu tidak hanya ingin tahu kapan kawasan ini dibentuk. Kamu ingin memahami siapa etnis pertama di Singapura, kenapa kawasan ini muncul, bagaimana kehidupan awal para imigran, dan mengapa sampai hari ini Chinatown dan Little India masih terasa “hidup”, bukan sekadar museum terbuka.

Lensa Jalan sudah berkali-kali berjalan kaki menyusuri dua kawasan ini. Bukan sekadar foto, tapi benar-benar memperhatikan detail: suara, bau, ritme manusia, dan jejak sejarah yang masih tertinggal di dinding bangunan.

Singapura Sebelum Chinatown dan Little India: Siapa Etnis Pertama?

Sebelum membahas Chinatown dan Little India, kamu perlu tahu satu hal penting yang sering tidak dijelaskan di artikel lain.

Etnis Pertama di Singapura

Menurut catatan National Archives of Singapore dan National Heritage Board (NHB), jauh sebelum gedung pencakar langit dan kawasan etnis seperti Chinatown atau Little India terbentuk, wilayah yang kini kita kenal sebagai Singapura sudah lebih dulu dihuni oleh orang Melayu dan Orang Laut (sering disebut Orang Selat atau Orang Biduanda).

Pada masa itu, Singapura belum bernama Singapura. Ia dikenal sebagai Temasek, sebuah pelabuhan kecil namun strategis yang hidup dari aktivitas perdagangan laut. Komunitas Melayu dan Orang Laut menjadikan pesisir dan perairan sekitar Temasek sebagai ruang hidup utama. Mereka berdagang, melaut, dan menjadi penghubung jalur niaga antarpulau di Asia Tenggara. Kehidupan mereka sangat lekat dengan laut, bukan dengan batas-batas kota seperti yang kita kenal hari ini.

Nama “Singapura” sendiri baru muncul kemudian, berasal dari bahasa Sanskerta: Singha yang berarti singa, dan Pura yang berarti kota. Menariknya, meskipun nama ini sangat ikonik, hingga hari ini tidak ada satu pun bukti arkeologis yang menunjukkan bahwa singa pernah hidup di Singapura. Fakta ini justru memperkuat dugaan bahwa nama tersebut bersifat simbolis, bukan deskripsi nyata tentang kondisi alam saat itu.

Dari sini, penting untuk kamu pahami satu hal mendasar: Chinatown dan Little India bukanlah kawasan etnis tertua di Singapura. Kedua wilayah tersebut baru terbentuk jauh setelah kedatangan Inggris pada tahun 1819, ketika Singapura mulai dibuka sebagai pelabuhan bebas dan menjadi magnet besar bagi gelombang migrasi dari China dan India. Dengan kata lain, Chinatown dan Little India adalah hasil dari dinamika kolonial dan migrasi modern, sementara akar sejarah Singapura sendiri sudah tumbuh lebih dulu bersama komunitas Melayu dan Orang Laut di Temasek.

Titik Balik Sejarah: Kedatangan Inggris dan Awal Migrasi Besar

Tahun 1819: Awal Segalanya

Ketika Sir Stamford Raffles tiba di Singapura tahun 1819, ia melihat potensi besar sebagai pelabuhan bebas pajak. Dalam waktu singkat, Singapura berubah dari desa kecil menjadi magnet imigrasi Asia.

Menurut data British Colonial Records:

  • Populasi Singapura tahun 1819: ±1.000 orang
  • Populasi tahun 1824: >10.000 orang

Lonjakan populasi Singapura pada awal abad ke-19 terjadi seiring dibukanya pelabuhan ini sebagai pusat perdagangan bebas oleh Inggris. Pendatang dari China Selatan, khususnya Fujian dan Guangdong, datang dalam jumlah besar untuk bekerja sebagai buruh dan pedagang. Dari sinilah komunitas Tionghoa mulai terbentuk dan perlahan menciptakan struktur sosial yang kelak berkembang menjadi kawasan Chinatown.

Di saat yang sama, arus migrasi juga datang dari India, terutama Tamil Nadu dan Bengal, yang sebagian besar direkrut sebagai buruh dan aparat kolonial. Pendatang dari Kepulauan Melayu tetap memainkan peran penting dalam perdagangan regional, sementara komunitas Arab dan Eropa mengisi sektor niaga dan administrasi. Perpaduan berbagai latar belakang inilah yang mengubah Singapura dari pelabuhan kecil menjadi kota multietnis dalam waktu yang relatif singkat.

Jackson Plan 1822: Akar Chinatown dan Little India

Sumber: History of Chinese Migration & Roots of Hawker Food Culture in Singapore |Tony Johor Kaki Travels for Food · Heritage · Culture · History

Salah satu fakta penting yang sering dilewatkan adalah peran Jackson Plan (1822).

Apa Itu Jackson Plan?

Jackson Plan merupakan rencana tata kota pertama Singapura yang diperkenalkan pada tahun 1822 di bawah pemerintahan kolonial Inggris. Rencana ini dirancang untuk membagi wilayah Singapura berdasarkan fungsi dan kelompok etnis, dengan tujuan utama menghindari konflik antar komunitas, mengatur sanitasi di kawasan pemukiman yang semakin padat, serta mengontrol laju dan penyebaran populasi imigran yang terus meningkat seiring berkembangnya pelabuhan Singapura.

Dari penerapan Jackson Plan inilah struktur kawasan etnis Singapura mulai terbentuk secara jelas. Wilayah Chinese Camp berkembang menjadi kawasan yang kini dikenal sebagai Chinatown, sementara Indian Camp menjadi cikal bakal Little India. Selain itu, terdapat pula Kampung Melayu sebagai pemukiman masyarakat lokal, serta kawasan Eropa yang diperuntukkan bagi pejabat dan warga kolonial. Pembagian ini bukan hanya membentuk peta kota Singapura, tetapi juga meletakkan fondasi multikultural yang masih terasa hingga hari ini.

Sejarah Chinatown Singapura: Lebih dari Sekadar Lampion Merah

Imigran China: Siapa Mereka?

Mayoritas imigran China yang datang ke Singapura pada abad ke-19 berasal dari wilayah China Selatan dan terbagi ke dalam beberapa kelompok dialek utama, seperti Hokkien, Teochew, Cantonese, dan Hakka. Mereka tiba di Singapura dengan latar belakang yang beragam, namun sebagian besar bekerja sebagai buruh pelabuhan, kuli bangunan, dan pedagang kecil yang mengisi denyut awal perekonomian kota pelabuhan ini.

Fakta yang jarang disadari, sebagian besar imigran China tersebut adalah pria lajang yang pada awalnya tidak berniat menetap. Tujuan mereka sederhana: bekerja keras, mengumpulkan uang, lalu kembali ke kampung halaman. Namun realitas hidup tidak selalu sejalan dengan rencana. Banyak dari mereka jatuh sakit, meninggal dunia, atau akhirnya membangun keluarga di Singapura. Perlahan, kawasan yang awalnya hanya tempat singgah itu berubah menjadi rumah permanen, dan dari situlah Chinatown Singapura tumbuh sebagai pusat kehidupan komunitas Tionghoa.

Chinatown di Masa Awal: Keras dan Gelap

Berdasarkan arsip National Heritage Board (NHB), kehidupan awal di Chinatown Singapura jauh dari gambaran rapi dan bersih seperti yang kamu lihat hari ini. Rumah-rumah dibangun sangat rapat, satu shophouse bisa dihuni oleh puluhan orang dalam ruang yang sempit dan minim ventilasi. Sanitasi menjadi masalah serius; limbah domestik sering dibuang sembarangan, sementara akses air bersih masih sangat terbatas. Kondisi ini membuat penyakit menular seperti kolera dan disentri mudah menyebar, terutama di kalangan buruh yang hidup dalam kondisi fisik lemah akibat kerja berat.

Di balik aktivitas ekonomi yang sibuk, Chinatown juga memiliki sisi gelap yang jarang diangkat dalam artikel wisata. Kawasan ini pernah dikenal sebagai pusat rumah opium, tempat banyak pekerja melarikan diri dari tekanan hidup. Perjudian ilegal berkembang pesat, dan berbagai secret society atau kongsi gelap menguasai wilayah-wilayah tertentu, mengatur tenaga kerja, bahkan memicu konflik antar kelompok dialek Tionghoa. Keamanan sering kali lebih ditentukan oleh kelompok ini daripada oleh hukum kolonial.

Ironisnya, justru dari kondisi keras inilah komunitas Chinatown terbentuk dan bertahan. Tekanan hidup, penyakit, dan kekerasan sosial memaksa para imigran untuk saling bergantung satu sama lain. Mereka membangun jaringan bantuan, tempat ibadah, dan organisasi komunitas yang kelak menjadi fondasi Chinatown modern. Sisi sejarah inilah yang jarang dibicarakan, namun sangat penting untuk memahami bahwa Chinatown bukan sekadar destinasi wisata, melainkan hasil dari perjuangan hidup yang panjang dan tidak mudah.

Pengalaman Lensa Jalan di Chinatown

Saat Lensa Jalan berjalan di Kreta Ayer Road, ada perasaan kontras. Bangunan terlihat rapi, bersih, dan tertata. Tapi jika kamu tahu sejarahnya, kamu sadar bahwa jalan ini dulu penuh keringat dan penderitaan.

Lensa Jalan masuk ke Buddha Tooth Relic Temple. Suasananya hening. Bau dupa, suara doa, dan arsitektur Tang Dynasty terasa seperti pengingat bahwa kawasan ini dibangun bukan oleh wisatawan, tapi oleh manusia yang berjuang hidup.

Fakta Unik Chinatown Singapura

  • Chinatown Singapura bukan Chinatown terbesar di Asia Tenggara
  • Tidak semua penduduknya etnis Tionghoa hari ini
  • Banyak shophouse dimiliki pemerintah dan disewakan
  • Smith Street dulu dikenal sebagai “Food Street” khusus street hawker

Little India Singapura: Identitas India Selatan yang Kuat

Kenapa Mayoritas India Selatan?

Jawabannya berkaitan erat dengan kebijakan kolonial Inggris pada abad ke-19. Pemerintah kolonial lebih banyak merekrut buruh dari India Selatan karena jaraknya relatif lebih dekat dan jalur transportasinya sudah mapan, terutama dari wilayah Tamil Nadu dan Kerala. Selain itu, dalam klasifikasi kolonial yang bersifat hierarkis dan diskriminatif, orang Tamil dianggap “lebih cocok” untuk pekerjaan kasar, seperti buruh konstruksi, pekerja pelabuhan, dan tenaga layanan publik. Pola rekrutmen inilah yang kemudian membentuk dominasi komunitas India Selatan di Singapura dan menjadi fondasi lahirnya kawasan Little India.

Little India di Masa Kolonial

Pada masa awal perkembangannya, Little India dikenal sebagai kawasan peternakan sapi dan pengolahan susu, terutama untuk memenuhi kebutuhan komunitas India dan penduduk kota yang terus bertambah. Aktivitas ini sangat erat kaitannya dengan tradisi masyarakat India Selatan yang menghormati sapi sebagai hewan suci. Warisan sejarah tersebut masih terasa hingga hari ini, terlihat dari banyaknya restoran vegetarian, kedai makanan berbasis nabati, serta kuatnya penggunaan susu, ghee, dan produk olahan susu dalam kuliner Little India, yang menjadi ciri khas kawasan ini hingga sekarang.

Pengalaman Lensa Jalan di Little India

Begitu keluar dari Little India MRT, Lensa Jalan langsung merasa seperti berpindah negara. Musik India terdengar dari toko-toko, udara dipenuhi aroma kari, rempah, dan bunga melati, sementara deretan toko emas berkilau di sepanjang jalan. Di Tekka Centre, Lensa Jalan duduk menikmati thosai panas sambil mengamati orang-orang lokal yang sarapan sebelum memulai aktivitas hari mereka. Tidak ada suasana yang dibuat-buat atau sekadar untuk wisatawan. Semua terasa alami, hidup, dan apa adanya.

Fakta Unik Little India Singapura

  • Little India satu-satunya kawasan di Singapura yang boleh menjual alkohol hingga larut malam (zona khusus)
  • Festival Deepavali dirayakan besar-besaran
  • Banyak toko dikelola keluarga lintas generasi

Chinatown vs Little India: Dua Wajah Migrasi yang Berbeda

Jika kamu membandingkan Chinatown dan Little India di Singapura, keduanya sama-sama lahir dari sejarah migrasi, tetapi berkembang dengan karakter yang sangat berbeda. Chinatown dibentuk oleh imigran dari China Selatan yang membawa berbagai dialek Tionghoa dan membangun komunitas yang cenderung tertutup serta berorientasi pada solidaritas internal. Nuansanya terasa lebih tenang dan reflektif, terutama ketika kamu berjalan di antara klenteng, rumah tua, dan gang-gang sempit yang menyimpan banyak cerita masa lalu. Di balik ketenangannya, Chinatown menyimpan sejarah gelap yang kuat, mulai dari opium, perjudian ilegal, hingga keberadaan kongsi gelap yang pernah menguasai kehidupan sosial kawasan ini.

Sebaliknya, Little India tumbuh dari komunitas India Selatan, terutama Tamil, dengan ekspresi budaya yang jauh lebih terbuka. Bahasa Tamil terdengar di mana-mana, musik India mengalun dari toko-toko, dan aktivitas berlangsung hampir tanpa jeda. Suasananya ramai, ekspresif, dan penuh warna, mencerminkan kehidupan buruh kontrak yang sejak awal membentuk kawasan ini. Sejarah gelap Little India bukan tentang opium atau kongsi, melainkan tentang kerasnya kehidupan buruh kolonial, kerja fisik berat, dan perjuangan ekonomi. Perbedaan inilah yang membuat Chinatown dan Little India tidak hanya kontras secara visual, tetapi juga menyimpan lapisan sejarah dan emosi yang sama-sama kuat dengan cara yang berbeda.

Peran Pemerintah Singapura dalam Pelestarian

Menurut Urban Redevelopment Authority (URA), lebih dari 7.000 bangunan bersejarah di Singapura berada dalam status perlindungan, dan Chinatown serta Little India secara resmi ditetapkan sebagai Conservation Area. Penetapan ini memastikan bahwa bangunan shophouse, tempat ibadah, dan struktur bersejarah lainnya tidak boleh diubah sembarangan, baik dari segi fasad, fungsi utama, maupun nilai historisnya.

Berbeda dengan banyak kota besar di negara lain, Singapura secara tegas tidak membiarkan gentrifikasi berkembang secara liar. Modernisasi tetap berjalan, tetapi tidak dengan cara menghapus identitas etnis yang sudah terbentuk selama ratusan tahun. Hasilnya, Chinatown dan Little India tetap menjadi ruang hidup komunitas, bukan sekadar kawasan wisata buatan, di mana sejarah, budaya, dan aktivitas sehari-hari masih berjalan berdampingan hingga hari ini.

Informasi Lokasi Detail

Chinatown

  • Distrik: Outram
  • Jalan utama: Pagoda St, Temple St, Smith St
  • MRT: Chinatown (DTL, NEL)

Little India

  • Distrik: Rochor
  • Jalan utama: Serangoon Rd
  • MRT: Little India (DTL, NEL)

Dua Kawasan, Satu Cerita Besar Singapura

Bagi Lensa Jalan, Chinatown dan Little India bukan sekadar tempat wisata. Mereka adalah arsip hidup tentang bagaimana Singapura dibentuk oleh migrasi, perjuangan, dan adaptasi.

Kalau kamu ingin memahami Singapura yang sebenarnya, bukan versi brosur, maka berjalanlah pelan di dua kawasan ini. Dengarkan, amati, dan rasakan.

Karena sejarah terbaik tidak selalu tertulis. Kadang, ia masih berjalan di depan matamu.

FAQ

  1. Siapa etnis pertama di Singapura?

Etnis Melayu dan Orang Laut.

  • Kenapa kawasan etnis dipisahkan?

Karena kebijakan kolonial Inggris (Jackson Plan).

  • Apakah kawasan ini masih autentik?

Ya, masih aktif secara budaya dan sosial.

  • Mana yang lebih ramai?

Little India lebih ramai dan ekspresif.

  • Apakah aman dikunjungi?

Sangat aman.

About the author

Dulunya suka travelling backpacker, sekrang suka liburan bersama keluarga

Leave a Reply

Proceed Booking